Sunday, 2 April 2017

KALA AKU BERSENGGAMA DENGAN SIMBOL RAMADHAN




Oleh: Ishak Hariyanto


Kedatangan bulan ramadhan tidak lama lagi, dan kedatangan bulan nan suci ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi umat muslim dunia. Datangnya bulan ramadhan bagi pengamatan penulis berbeda. Perbedaan ini tentu tergantung dari sudutpandangyangdigunakan. Bulan ramadhan memang selalu dinanti-nantikan oleh semua umat Islam dan menyambutnya merupakan hal yang sangat indah. Penyambutan bulan ramadhan di berbagai tempat memiliki keunikan tersendiri dan bahkan penyambutannya dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan dan kebiasaan suatu masyarakat, dan inilah yang disebut dengan relativisme budaya. Meskipun demikian, bulan ramadhan yang dinanti-nantikan telah tiba, namun dalam menjalankannyakita masihsebatasfun kata sebagianorang sebagai candaan.Namun candaan tersebut tidak bisa dipungkiri, karena keberadaannya sangat nyata, taruhlah seperti;kita mengaji, berdoa,dan bahkan shalat tarawih tak lupa menjepretnya dengan lensa camera, seolah-olah hanya sebatas fun semata. Akhirnya masyarakat sibuk menyambut bulan ramadhan hanya sebatas simbol semata, alih-allih ramadhan dipandang sebagai bulan penebus dosa,bulan tiket masuk syurga,dan kita sibuk berlomba-lomba untuk mencari tiket penebusandosa tersebut.Berpuasa, kita masih belum beranjak dari orientasi simbol dan kita terus bersenggama dengannya. Namun, kapan kita akan berorientasi pada meaning ramadhan yang berarti selalu menahan diri dari segala yang dapat merusak puasa.kedatangan.
Ramadhan kepada kita pada dasarnya sebagai ujian untuk menjadi lebih baik dan terus menyebarkan cinta tuhan kepada sesama, namun cinta itu kadang terhalang oleh keegoisan manusia untuk ingin dihormati, dihargai, dan disanjung-sanjung, namun kita tidak bisa menghormati orang lain. Apabila seperti ini maka kita belum beranjak dari lingkaran simbol ramadhan, namun nuansa dan nilai-nilai ramadhan tergusur. Pada saat ini Ramadhan akan meninggalkan kita semua, dan semua orang ingin bersenggama lebih lama dengannya, maka sejak itu orang sibuk mengejar pahala dan menantikan malam seribu bulan atau disebut dengan malam lailatul qadar. Bagi penulis orang yang bersenggama dengan bulan ramadhan dan yang akan mendapatkan nilai-nilai malam lailatul qadar tersebut hanya orang-orang yang tidak terjebak dalam nuansa simbol, yang hanya mengugurkan kewajiban dan sibuk dengan segala kemewahan makanan, sehingga puasa dimaknai sebagai konsumsi besar-besaran dan sibuk mengoleksi makanan. Tak ayal jika orang sibuk mengkonsumsi berbagai macam makanan, pakaian baru, dan kesibukan tersebut membuatkita lupa untuk selalu solider dengan saudara-saudara kita yang masih mengharapkan keringanan tangan kita untuk membantu mereka yang sedang membutuhkan. Oleh karenanya, dalam tulisan yang singkat ini, penulis mengharapkan agar kita dalam menjalankan ramadhan tidak hanya sibuk dengan mengkonsumsi simbol semata namun bersenggama dengan ramdhan dengan penuh nilai yang mampu memberikan perubahan dalam ranah tindakan, dan sikap. Bukan hanya mendengung-dengungkan pahala ramadhan, ceramahramadhan, yang akhirnya terjebak di dalam simbol belaka. Mari kita menjalankan ramadhan dan bersenggama dengannya lebih lama dan selalu ikhlas, solider dengan saudara-saudara kita, dan menahan setiap nafsu amarah yang selama ini membelenggu kita, karena di sanalah letak ujian yang harus kita lalui. Itulah yang disebut ramadhan berkah yang selalu kita rindukandan tak ingin ditinggalkanolehnyadan bahkan ingin bersengggama lebih lama dengannya.  (selamat membaca)

Reaksi:

0 komentar: