Monday, 27 June 2016

Gelar Akademik vs Gelar Hidup


Oleh; Panji Tanashur

Gelar adalah sebutan atau julukan yang berhubungan dengan keadaan atau tabiat orang atau bisa berupa sebutan kehormatan. Gelar memang sangat berpengaruh dalam popularitas seseorang diranah sosial maupun pendidikan, gelar kemudian menjadi tujuan hidup seseorang demi mendapatkan status sosial di kalangan masyarakat. Hari ini gelar juga menjadi persyaratan mutlak untuk suatu jabatan atau pekerjaan. Saya ingin memperkenalkan kepada para pembaca bahwa gelar yang selama ini anda ketahui adalah gelar akademik seperti halnya professor, doctor, magister, sarjana dll. Gelar akademik bisa diperoleh dengan mengikuti proses belajar di institusi-institusi formal yang kemudian akan memberikan label akademik setelah selesai melaksanakan proses belajar di sekolah atau kampus. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kontribusi si penyandang gelar selama ini, di Indonesia contohnya berapa ribu professor dibidang pertanian?, tetapi sampai detik ini apakah Indonesia berhenti mengimpor beras? Kapan terakhir kali Indonesia swasembada beras? Dengan sumber daya alam yang melimpah apa yang dilakukan selama ini oleh para professor-profesor dibidang pertanian, mengapa kekayaan alam yang begitu melimpah tidak mampu dimanfaatkan secara maximal? Sehingga bukan Negara ini yang terus-terusan mengimpor beras dari Negara-negara tetangga tetapi Indonesia lah yang lebih pantas menyuplai sembako ke seluruh dunia mengingat potensi alam yang begitu luar biasa, terbesar didunia. Ini membuktikan secara jelas dan empiris bahwa gelar akademik ini sama sekali tidak memberikan bekas dan kontribusi terhadap kemajuan Negara ini. Belum lagi terjadinya degradasi moral yang sempurna dikalangan pemerintah pusat sampai ketingkat desa.  Tidak ada trust antara pemerintah dengan masyarakat, krisis seseorang yang bisa di tauladani menyebabkan pembangunan sumber daya manusia yang lebih substnsial mengalami kesulitan, dampaknya pembangunan-pembangunan infrastruktur di negeri ini tidak rampung atau dengan kata lain lebih banyak keuntungan yang di ambil dari pada mengutamakan kwalitas pembangunan infrstruktur itu sendiri.
Kami generasi bangsa ini merasa bangga memandang hotel-hotel menjulang tinggi, jalan-jalan hotmik, bangunan-bangunan tinggi pencakar langit, masjid-masjid besar nan indah, tetapi kami menangis melihat saudara/I kami yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini mengalami kerusakan moral (narkoba, free sex, dll), hari ke hari krisis SDM, maunya yang instant-instat saja sehingga pembangunan yang sebenarnya lebih substansial adalah pembangunan Sumber Daya Manusia, Pembangunan gedung-gedung bertingkat dan jalan-jalan tadi sifatnya hanyalah instrumental saja karena manusia ini yang akan men-drive pembangunan tadi. Apabila manusianya bermasalah maka itulah yang menjadi persoalan. Sehingga dibutuhkan manusia-manusia yang tidak hanya mengandalkan gelar akademik saja tetapi diperlukan pula gelar hidup yang baik. Karena gelar yang sebenarnya lebih substansial adalah gelar hidup bukan gelar akademik, gelar hidup yang kami maksud adalah gelar yang diberikan kepada seseorang atas tabiat hidupnya selama bermasyarakat terus menerus secara konsisten. Tabiat yang menunjukkan pola bermasyarakat yang aplikatif bukan wacana atau bahasa singkatnya gelar hidup lebih ke perilaku.  Maksudnya adalah gelar hidup ini akan baik ketika perilaku dan pola interaksi yang dilakukan oleh individu atau kelompok juga baik, gelar hidup ini juga berpotensi menjadi buruk ketika pembiasaan-pembiasaan hidup di masyarakat juga buruk. Rasulullah SAW dijuluki al-amin karena kebiasaan beliau sampai meninggal dunia beliau selalu mengatakan apa yang diyakininya benar kemudian tidak melakukan apa yang tidak beliau yakini kebenarannya. Dengan kata lain beliau selalu bersikap jujur kepada semua orang selama hidupnya, barulah beliau mendapatkan gelar hidup Al-Amin atau Orang yang yang dapat dipercaya. Gelar hidup itu akan terus dan tetap hidup walaupun sang pemilik gelar sudah tiada, itulah bedanya gelar hidup dengan gelar akademik . gelar akademik tidak dibawa sampai mati. Ketika habitus baik yang dibiasakan dikalangan masyarakat dengan pemerintah maka sudah jelas keharmonisan bermasyarakat menjadi emergence atau feature kebaruan yang akan lahir dari kebiasaan tersebut. Aristoteles mengatakan “siapa anda, anda adalah apa yang anda lakukan berulang-ulang”. apa yang menjadi kebiasaan hidup kita entah itu baik atau buruk maka itulah gelar hidup yang anda miliki. Identitas dan status sosial dimasyarakat akan tercipta sesuai dengan kebiasaan dan cara hidupnya. Ketika secara sadar kita melakukan sesuatu yang baik terus menerus secara berulang-ulang maka itulah identitas yang akan melekat dalam diri kita.

Gelar akademik hanya akan melekat di nama tetapi gelar hidup akan melekat didalam diri sampai kita mati. Sekarang apa gelar hidup anda? ciptakan gelar hidup ini kapanpun dan dimanapun kita berada. Siapapun anda entah berpendidikan atau tidak, kaya atau miskin, pejabat atau pembantu, pengajar atau pelajar, secara individu atau collective kita tetap berhak memiliki gelar hidup. 

Reaksi:

0 komentar: