Tuesday, 10 February 2015

“WHAT IS THE EDUCATION FOR?”

Dewi Satria Elmiana elmianadewi@gmail.com

Bertumpu pada ontologi pendidikan yaitu “apa” yang seharusnya di ajarkan di sekolah dan Perguruan Tinggi?. Kurikulum pendidikan mesti dapat memberikan reformasi terhadap pendidikan Indonesia. Namun demikian, yang menjadi catatan saat ini tidak hanya “apa” yang harus di ajarkan di sekolah, namun bagaimana pendidikan dapat memicu terjadinya perubahan dalam masyarakat tertentu. Artinya, lembaga pendidikan bertanggung jawab atas terciptanya SDM yang baik untuk kemajuan Daerah. Pengukuran terhadap mutu pendidikan tidak dapat dilihat dari kuantitas belaka, tetapi prestasi kualitas harus menjadi tujuan utama. Orientasi pendidikan tidak hanya menghasilkan para pencari kerja atau pemburu CPNS, tapi pendidikan menciptakan komunitas kecil dalam masyarakat yang berfikir lebih strategis dan luas dalam perspektif untuk pembangunan dan perubahan yang lebih baik.
Lembaga pendidikan tidak harus menciptakan masyarakat baru dengan orientasi Seeking Job, tapi harus berorientasi pada manusia dengan tingkat kreatifitas ide-ide dan gagasan perubahan dalam masyarakat yang berorientasi pada Creating Job. Inilah terminologi pendidikan yang harus di implementasikan di daerah yang baru atau daerah otonomi baru.
Yang menarik dalam perhatian saya adalah, pertama, fenomena PNS yang dijadikan sebuah tolak ukur dari kebanyakan masyarakat Indonesia untuk mencapai sebuah pengakuan diri akan sebuah kesuksesan karir. Lulus CPNS sama dengan harga diri dan derajat meninggi, sehingga muncullah para sarjana muda yang terkesan “dipaksakan” lulus dengan title yang dipaksakan pula. Seperti contoh sederhana yang sering muncul yaitu ketika tenaga yang dibutuhkan seperti guru, tenaga medis, tenaga professional, dan lain-lain. Akibatnya orang beramai-ramai bahkan berebutan untuk memperebutkan posisitersebut.
Hal ini dapat dibuktikan dari orientasi pendidikan dalam minat jurusan yang diambil mahasiswa pada Perguruan Tinggi. Dalam dunia kerja, hal ini wajar saja terjadi. Orang akan memilih suatu pilihan jursan sesuai dengan kesempatan dunia kerja dan profesi. Namun dalam upaya menciptkan pendidikan sebagai kunci perubahan, orientasi pendidikan yang “sempit” itu harus menjadi perhatian penting.
Kedua, yang menarik dari persoalan diatas adalah munculnya disorientasi pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan sebagai olah hati, olah rasa, dan olah raga bagi setiap lapisan masyarakat berubah menjadi semacam ruang sempit yang berisi manusia-manusia tanpa kreatifitas dan ide-ide perubahan yang lebih inklusif. Cara berfikir ini melahirkan perspektif yang sempit dalam masyarakt terhadap dunia penididikan. Pendidikan dianggap hanya sebagai upaya untuk mendapat kan kerja. Orang tua akan berupaya semaksimal mungkin untuk pendidikan anaknya asal dapt kerja,  sayangnya sang anak, pun tidak mengerti tentang tanggung jawab pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan hanya diliht dari perspektif kerja.
Persoalan ini tidak saja menimbulkan disorientasi pendidikan dalam masyarakat. Melainkan, berbahaya bagigenerasi masa depan. Harusnya, ditanamkan dalam generasi untuk melakukan ide-ide perubahan dan pengembangan ilmu pengtahuan sehingga menjadi manusia terdidik dengan orientasi Creating Job.

Cara berfikir masyarakat yang demikian tidak hanya terjadi di daerah pingggiran. Dalam masyarakat perkotaan pun hal ini sudah biasa terjadi. Pendidikan sebagai kunci perubahan harus dapat melahirkan manusia dengan tingkat ide, gagasan, dan kreatifitas sebagai modal pembangunan daerah. Semoga kita dapat merealisasikannya. Amiiin

Reaksi:

0 komentar: