Sunday, 3 November 2013

Wilfrida-Wilfrida Indonesia, Akankah Ia Selamat Dari Tiang Gantungan

Tembok itu sudah tua, tatkala malam tiba
 penghuni jeruji besi meratapi nasib tak pasti
duh,... sayang
Takkan ada lagi pagi untuknya
Takkan ada lagi sarapan pagi untuk majikan
Takkan ada lagi eksploitasi
Tikus-tikus penjara lalu-lalang dari sel tahanan
Terkadang ada yang berkumis, menyeramkan seperti prajurit Alice And Wonderfull Land[1]
Para penjaga perut buncit sontak tersenyum kala jam makan tiba
Akan kah ia selamat dari tiang gantungan[2]
2013 adalah angka yang mungkin akan terukir di batu nisannya
Sekarang ia berada di ruang persegi bertembok jeruji
Tempat di mana ia tak bisa tidur karena pikiran dalam otaknya bak Dinamit yang siap meledak, Memikirkan tali gantungan mangkir di lehernya
Oh dunia, adakah kesempatan untuk nya berbuat
Masih teringat ia akan siksaan majikan “bermata setan” menjambak rambutnya
Merobek-robek bajunya, memaksa mengepel,  tak jarang lengannya  lebam  bekas pukulan tongkat kayu, gajinya pun tak pernah keluar.[3]
Setiap hari begitu.
Setiap minggu begitu.
Dan setiap bulan begitu.
Aduh..
Tiang gantungan lagi-lagi terbayang
Di saat ia menyesali semuanya
Namun ia malah akan mati konyol dengan perlahan atas siksaan sang majikan.
Tak tahu apa yang dipikirkan ayah dan ibunya saat ini
Fadil, pacar terbaiknya entah merantau kemana
Ia melambaikan tangan ketika keberangkatan pacarnya itu

Kini hidupnya di ujung tanduk
Niat mencari uang untuk ayah, ibu dan adik-adiknya berujung maut
Hidupnya sudah tinggal hitungan jam
Selamat tinggal dunia
Selamat tinggal ayah bunda
Selamat tinggal adik-adik
Selamat tinggal kekasih tersayang.

Pagi itu ia ingat betul.
 Ketika mengantarkan nasi parut.
Nasi tercampur parutan kelapa dan ditaburi garam.
Memang nasi itu adalah nasi pokok keluaganya.
Krisis moneter berdampak kepada keluarganya
Ia terpaksa putus sekolah dan memilih menjadi TKW[4]

Duh.. masa itu indah sekali
Ibu dan ayah telah menunggu di pematang sawah.
Sawah  milik tetangga.
Matahari pagi tersenyum kepadaku
Udara persawahan, embun segar membasahi langkah kakiku setapak demi setapak

Harga kebutuhan pokok dan segala macam barang melonjak tinggi
Sudahlah aku tak faham masalah ini
namun keputusanku berhenti sekolah karena tak ada biaya adalah keputusan tepat
Kini ku dihadapkan masalah ekonomi keluargaku.
Kutinggalkan kampung halaman ke negeri jiran
Adik-adikku kini sudah masuk sekolah dasar

Aduh..indonesia pedulikah engkau akan masalahku?
Setahuku kalian hanya berdebat masalah yang sama sekali aku tak mengerti
Aduh..Bukan itu yang aku mau
Bukan itu yang ibu dan bapak mau
Dan bukan itu yang adik-adik ku mau







[1] Alice in Wonderland adalah sebuah film animasi produksi Walt Disney, yang diadaptasi dari cerita karya Lewis Carroll yang berjudul Alice's Adventures in Wonderland danThrough the Looking-Glass. Animasi ini merupakan seri yang ke-13 dari Walt Disney Animated Classics series. Film ini dirilis di New York City and London pada tanggal 26 Juli 1951, yang didistribusi oleh RKO Pictures. Pengisi suara Alice adalah Kathryn Beaumont (yang juga menyuarakan Wendy Darling dalam serial animasi berikutnya yang berjudul Peter Pan), dan Ed Wynn berperan sebagai pengisi suara Mad Hatter. Film yang disupervisi oleh Walt Disney, yang dikenal sebagai salah satu karya terbaik Disney studio dalam sejarah film animasi, meskipun banyak kritikan yang tidak baik dari para kritikus film dari United Kingdom.
[2] Wilfrida hanya satu dari ratusan WNI yang terancam hukuman mati di luar negeri. Menurut data Kemlu, saat ini masih ada 247 WNI lainnya yang berada dalam kondisi serupa. "Rincian ada 36 TKI berada di Arab Saudi, 188 orang di Malaysia, 11 orang di China, satu di Brunei Darussalam, satu orang di Singapura dan satu WNI di Iran,"
[3] Wilfrida dituduh melakukan pembunuhan terhadap majikannya, Yeap Seok Pen (60). Wilfrida merasa tidak tahan dengan perlakuan kasar majikannya tersebut. Dan pada tanggal 30 september akan menjalani hukuman mati.( http://nasional.news.viva.co.id)
[4] TKW singkatan dari Tenaga Kerja Wanita,  

Reaksi:

0 komentar: