Sunday, 3 November 2013

KIPRAH NURCHOLIS MADJID (CAK NUR) DAN KONTROVERSINYA

Oleh: Agus Dedi Putrawan

Pendahuluan
Pada awal abad ke-20 di sebagian kalangan intelektual muslim terpelajar timbul kesadaran untuk membawa ummat Islam kepada tingkat kemajuan sebagaimana yang pernah dicapainya di abad klasik, dan sekaligus mampu menghadapi tantangan modernisasi. Berbagai penyebab yang membawa kemunduran ummat Islam telah dikaji secara seksama dan berbagai solusi untuk mengatasinya juga telah dikemukakan.
Berbagai solusi tersebut terkadang membawa pro dan kontra dikalangan masyarakat Islam, terutama dari kalangan Islam Tradisionalis. Nurcholis Madjid adalah salah seorang tokoh pembaharu yang banyak ditentang oleh kalangan tradisionalis. Gagasannya tentang sekularisasi dalam Islam, serta pernyataan tentang “Islam Yes, Partai Islam No” hingga kini banyak diperbincangkan orang. Demikian pula kesadarannya untuk menggunakan institusi pendidikan untuk menyosialisasikan gagasan dan pemikirannya itu pula telah ia lakukan. Gagasannya tentang pembaharuan pesantren adalah merupakan bagian dari cita-cita modernisasinya. Nurcholis Madjid sangatlah fenomenal dikalangan cendekiawan muslim Indonesia. Sangat penting untuk dikaji lebih dalam tentang gagasannya yang Orisinil. Dengan gagasannya tergugahlah masyarakat muslim Indonesia yang sarat dengan dogma budaya.

Prof. Dr. Nurcholish Madjid (lahir di Jombang Jawa Timur17 Maret 1939 – meninggal di Jakarta29 Agustus 2005 pada umur 66 tahun) atau populer dipanggil Cak Nur, anak pasangan KH H. Abdul Madjid dan Hj. Fatonah ini adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia. KH H. Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Nurcholis pada masa mudanya sebagai aktifis (HMI) Himpunan Mahasiswa Islam, ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Nurcholish pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005.[1] 
Cak Nur dianggap sebagai salah satu tokoh pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman/ke-bhinneka-an keyakinan di Indonesia. Menurut Cak Nur, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Cak Nur mendukung konsep kebebasan dalam beragama, namun bebas dalam konsep Cak Nur tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih.[2] 
Sebagai tokoh pembaruan dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaruan Islam di Indonesia. Pemikirannya dianggap sebagai mendorong pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam di Indonesia, terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.
Makalah ini saya petakan ke dalam tiga pembahasan. Yang pertama, perjalanan pendidikan beliau secara umum di Indonesia, Amerika dan Timur Tengah, kemudian kembali ke Tanah Air. Yang kedua, tentang kontroversi pemikiran Islam dan negara serta kemoderenan. Kemudian yang terakhir, kesimpulan dari buah pemikiran Cak Nur dan tanggapan pemakalah.

PERJALANAN PANJANG YANG MENENTUKAN
a.       Madrasah Al-Wathoniyah
Berawal dari keresahan yang dalami oleh mendiang ayah Cak Nur yaitu H. Abdul Madjid akan kondisi lingkungan sosial para remaja (mabuk dan berjudi) di wilayahnya membuat hatinya terketuk dan merasa bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak islam. Mula-mula pendidikan agama dilakukan secara semiformal di dalam mushola yang masih berupa papan dan anyaman bambu. Pada tanggal 17 Maret 1939 lahirlah anak laki-laki yang dinamakan Nurcholis Madjid buah dari perkawinannya dengan Fothonah. Baru setelah tahun 1947 menjawab keresahan di atas ia mendirikan madrasah Al-Wathaniyah di atas lahan kosong miliknya, di bawah naungan Yayasan Wakaf Umat Sejahtra yang didirikan bersama Kiai Abdul Mukti.
Al-Wathaniyah ditujukan tak lain adalah untuk mengimbangi Sekolah Rakyat “SR” yang semua guru-gurunya adalah orang Kristen, arus pendidikan sekuler berusaha diimbangi dengan mendirikan madrasah tersebut tanpa berniat untuk menyainginya. Cak Nur mengenyam pendidikan merangkap pada pagi hari ia sekolah di Sekolah Rakyat sedang ketika sore ia belajar di madrasah Al-Wathoniyah meskipun salah satu pamannya tidak melarang keras untuk sekolah di Sekolah Rakyat dengan alasan guru-guru di sana adalah orang kristen namun H. Abdul Madjid sendiri memberikan kebebasan kepada anaknya dalam hal itu. Ia berpendapat selain ilmu agama, ilmu umum juga tetap penting, ini terlihat dari nilai Cak Nur yang rata-rata baik, terutama ilmu hitung atau Aljabar yang selalu mendapat nilai tinggi. Dalam waktu yang bersamaan Cak Nur juga mampu dengan mudah menguasai pelajaran di madrasah seperti tata bahasa Arab (Nahw dan Sharaf) di Sekolah Rakyat (SR) diajarkan ilmu bumi, dan ia mampu menggambar peta Jawa Timur lengkap dengan letak kota-kotanya tanpa melihat Atlas.
Cak Nur sendiri adalah murid pertama di madrasah Al-Wathoniyah, di angkatannya terdapat tujuh orang siswa yang mendaftar di tahun pertama. Al-wathoniyah tergolong madrasah yang perkembangannya sangat pesat itu terbukti dalam durasi tiga tahun, tercatat seratusan orang siswa belajar di sini. Cak Nur tamat Sekolah Rakyat (SR) pada usia remaja, 14 tahun. Tapi ia tidak sendirian, teman-teman kampungnya seperti Muhid, Muksin, Anam, Muchamad Salim, Mochammad Iksan, dan Sanuji juga menamatkan Sekolah Rakyat (SR) pada usia tersebut. Mereka terpaksa pada umumnya menunda sekolah karena suasana perang. Pertemuan antara Belanda melawan Jepang menjelang kemerdekaan RI pada 1945 tak jarang terjadi di desa mereka, menyebabkan warga mengungsi ketempat-tempat aman.[3]     

b.      Pesantren Darul Ulum
Tamat dari Sekolah Rakyat, Cak Nur dimasukkan oleh ayahnya ke Pesantren Darul Ulum (didirikan sejak 1885 M) yang diasuh Kiai Romli Tamim dan K.H Dahlan Cholil, pesantren tersebut lebih terkenal dengan sebutan Pesantren Rejoso, karena terletak di Desa Rejoso, Kecamatan Petorongan. Di Darul Ulum Cak Nur langsung diterima di kelas enam Ibtidaiyah, “sungguh luar biasa”. Ia melompati kelas lima karena semua mata pelajaran telah ia kuasai semenjak duduk di bangku madrasah al-Wathoniyah milik ayahnya, di kelas enam pun seolah ia hanya mengulang-ngulang pelajaran di al-Wathoniyah, maka Cak Nur waktu itu tidak mengalami kendala yang terlalu sulit untuk menamatkan belajarnya. Pada tahun 1954, Cak Nur melanjutkan ketingkat Tsanawiyah, di pesantren yang sama. Di tingkat ini ia memutuskan untuk menetap di Asrama dan merasakan tradisi pesantrean secara penuh.
Di tahun pertama tampak Cak Nur menikmati menikmati kegiatan belajarnya, sebagian besar karena ia telah dibekali pengetahuan dasar di Madrasah Al-Wathoniyah dengan kitab-kitab dasar seperti Jurumiyah, Imrithi, Tuhfatul Athfal, dan Aqidatul Awam kemudian mengkomparasikan dengan kitab-kitab lanjutan seperti Alfiyah,  Bad’ul Mal, Jauharatut Tauhid, dan lain-lain.[4] Dalam waktu yang bersamaan pergulakan perpolitikan dari kedua orang tuanya mewarnai perjalanan pendidikan Cak Nur karena H. Abdul Madjid dan Hj.Fathonah adalah pendukung setia Masyumi[5] yang ketika itu NU telah keluar dari Masyumi dalam Muktamar Palembang (1952).[6] Suasana itu kian terasa menjelang pemilu 1955, dua partai Islam saling sikut menyikut untuk meraih suara kaum muslim. NU mewakili para kaum Santri, sedang Masyumi menarik dukungan dari orang Islam di Jombang.
c.       Pesantren Gontor
Dampak dari sikap politik orang tuanya Cak Nur sering disindir oleh para pengajar sebagai anak Masyumi yang kesasar di sarang NU.[7] Tidak tahan akan hal yang terjadi pada Cak Nur, H. Abdul Madjid langsung memindahkan anaknya ke Pesantren Gontor. Di sinilah Cak Nur mulai membuka cakrawala pengetahuannya lebih luas, selain itu di sana ia belajar bahasa asing, pesantren Gontor diklaim sebagai pesantren “setengah kafir” yang bermula dari pengajaran bahasa belanda dan bahasa Inggris. Cak Nur tertarik belajar bahasa Prancis, ia belajar dari seorang guru di Gontor bernama Muhammad Syarif secara Private karena bahasa Prancis tidak diajarkan secara resmi pesantren.  
Tradisi Pesantren Gontor dibentuk oleh apa yang disebut Panca Jiwa Pondok, yaitu: keihklasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuah Islamiyah, dan jiwa bebas. Kelimanya menjadi sendi kehidupan para santri termasuk Cak Nur. Selain itu, pondok juga memiliki falsafah pendidikan dan pengajaran yaitu berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berfikir bebas. Keempat unsur itu saling terkait satu sama lain. Karena itu, misalnya pengetahuan harus selalu dikaitkan dengan budi yang tinggi, dengan begitu para santri akan mengerti bahwa ilmu yang mereka miliki harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Begitu juga motto”berfikir bebas”, harus didahului oleh pengetahuan yang luas, sehingga bebas berfikir itu benar-benar mencerminkan kematangan dan tidak menjurus ke pemujaan pada akal pikiran.[8]
d.      Tak Jadi Ke Mesir
    Pada tahun 1960 Cak Nur tamat dari gontor, ia berniat melanjutkan kuliah ke Fakultas Kejuruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Muhammadiyah, di Solo. Namun niat tersebut urung dilaksanakan karena untuk melanjutkan ke sana harus mempunyai Ijazah SMA. Cak Nur kemudian berkonsultasi kepada Kiai Zarksyi, pengasuh pondok pesantren Gontor. Lalu Kiai Zarkasyi berusaha menenangkan hati Cak Nur dengan menjanjikan kepada Cak Nur suatu saat ia akan mengirim Cak Nur ke Mesir, namun untuk sementara Cak Nur disuruh mengajar di Gontor.
Berita kepergiannya sudah menyebar ke kampungnya tak terkecuali teman-teman sebayanya, mereka berharap kelak sekembalinya akan menjadi seorang ulama. Hari demi hari kabar kepergiannya semakin samar-samar, takut orang tuanya menanggung malu ia berinisiatif memberi tahu teman-temannya bahwa ia telah membatalkan kepergiannya itu ke Mesir. Kepergian ke Mesir di tawari lagi oleh Kiai Zarkayi ketika Cak Nur sudah masuk di IAIN Jakarta, dengan berbagai pertimbangan ia pun menolak.
e.       Masuk HMI di IAIN Jakarta
Karena kepergiannya semakin tidak pasti Cak Nur memutuskan untuk melanjutkan kuliah di IAIN Jakarta. Pada awal tahun 1961, Cak Nur masuk ke Fakultas Adab (Sastra Arab) karena minatnya sangat besar di bidang ini. teman-temannya di kelas itu hanya enam orang: Baidjuri, Hafiz Dasuki, Hifni Sjazali, Ja’far Mawardi, Muhammad Ridho, dan Zubaidi. Dan pada tahun 1965 ia meraih sarjana muda (BA) bidang sastra arab. Tiga tahun kemudian (1968) beliau menuntaskan (S1)-nya dengan menyandang gelar Doktorandus di bidang Sastra Arab di lembaga yang sama yaitu IAIN Jakarta. Di antara periode tersebut, beliau juga terpilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) dalam kongres ke-8 di solo, september 1966. Dan pada mei 1969, dalam kongres ke-9 di malang, beliau kembali terpilih sebagai ketua umum PB-HMI, sekaligus menjadi satu-satunya orang yang terpilih untuk memimpin organisasi Mahasiswa Islam tersebut selama dua periode. Selain itu, beliau juga pernah menjadi Presiden pertama Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT) tahun 1967-1969, sebagai Wakil Sekretaris Jendral Internasional Islamic Federation of Student Organization (IIFSO) pada tahun 1969-1971
Setamat dari IAIN Jakarta, Nurcholis Madjid bekerja sebagai Dosen di Almamaternya, mulai tahun 1972 sampai 1976. setelah berhasil meraih gelar Doktor pada tahun 1985, ia ditugaskan memberikan kuliah tentang filsafat di Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, sejak tahun 1978 ia bekerja sebagai peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bersama tugas-tugasnya itu, ia pernah berkesempatan menjadi dosen tamu pada Universitas McGill, Montreal, Canada. Pada tahun 1990 di dampingi oleh istrinya yang mengikuti program Eisenhower Fellowship.[9]
Keterlibatan Cak Nur di HMI Ciputat pada mulanya karena ia mengetahui di situ ada A.M. Fatwa yang namanya sudah ia dengar sebagai aktivis PII dan HMI yang dekat dengan tokoh-tokoh Masyumi. Sebelum berangkat merantau ke IAIN Jakarta ayahnya pernah berpesan agar di Jakarta Nurcholis menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh Masyumi.[10] Hingga dalam prosesnya ia menjadi Ketua Umum HMI selama dua priode (1966-1969/1969-1971). Dalam waktu yang bersamaan masa krusial di mana suhu politik yang tinggi tidak kunjung mereda akibat transisi kekuasaan yang berlangsung cukup lama dari presiden Sukarno ke presiden Soeharto.[11]

f.       Di Amerika 
Perginya Cak Nur ke Amerika pada akhir Oktober 1968[12], menimbulkan banyak psekulasi, Ahmad Wahib (koleganya di HMI) yang menurutnya disampaikan oleh Kedubes Amerika, pemerintah Amerika ingin menunjukan kepada Cak Nur “apa yang ia benci selama ini.”[13] kunjungan yang hanya sekitar satu setengah bulan itu di manfaatkan betul oleh Cak Nur, mengunjungi beberapa tempat dan bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Meskipun saat itu ia berada di Amerika namun pikirannya selalu tertuju ke Timur Tengah.
Di Wasington ia bertemu dengan Hasan Turabi dari Sudan, Dr. Farid Mustafa dari Riyadh, Arab Saudi, ia juga berkenalan dengan Tottonji seorang pemimpin mahasiswa Islam di Arab Saudi, yang kemudian mengajaknya ke Pensylvania State University. Di sini ia mengunjungi markas Moslem Student Assosiasion Of North American And Canada (MSA), yang diketuai oleh Muhammad Abduh Yamani yang kelak menjadi menteri penerangan Arab Saudi. Cak Nur juga berkenalan dengan Dokter Jawad, seorang keturunan Irak yang bekerja di Istanbul, Turki (semua orang-orang tersebut kelak ditemuinya di negara mereka masing-masing kecuali Muhammad Abduh Yamani).
Dari Pensylvania State University lalu pergi ke oberlin college, sebuah perguruan tinggi tua (didirikan 1833) di Ohio, dan memiliki tradisi oposisiyang kuat terhadap pemerintah. Di sana ia bertemu dengan orang-orang dari Student For Democratic Society (SDS), sebuah gerakan kiri radikal yang didirikan pada tahun 1959 untuk mengkritik kebijakan pemerintah luar negeri Amerika Serikat yang dianggap gagal menciptakan perdamaian dunia, khususnya keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam sejak 1957.
Setelah selesai di Ohio, ia melanjutkan ke Berkeley. Di sini ia bertemu dengan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Departemen Ilmu Politik, Universitas California, Berkeley. Dorodjatun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yang kebetulan ia bekerja di Voice Of America (VOA) mewawancarai Cak Nur tentang Islam dan perkembangan mutakhir situasi politik di Indonesia.[14]   Dua tokoh penting yang ditemui Cak Nur di Amerika Serikat ialah Ruslan Abdulgani dan Soedjadmoko.  Ruslan adalah duta besar Indonesia di PBB, sedangkan  Soejadmoko adalah duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Menghabiskan sisa waktu kunjungannya di amerika ia menginap di rumah ruslan selama satu minggu.[15]
g.      Timur Tengah
Cak Nur mengakui lawatannya ke amerika itu mempengaruhi dirinya namun tidak sampai mengubuah pandangan-pandangannya. Yang banyak mengubah pandangannya ialah ketika berkunjung ke timur tengah. Memanfaatkan sisa uang saku yang didapatkan dari sponsor masih lumayan, Cak Nur lalu mewujudkan cita-citanya pergi ke timur tengah. Pertama-tama ia berangkat dari New York dan transit ke Prancis kemudian menuju Turki. 
Tiba di Istanbul yang dulu bernama Konstantinopel  bertemu dengan dokter jawad yang di amerika mereka berdua sempat janjian akan bertemu. Meskipun seorang dokter, jawad memiliki jaringan yang luas di kalangan aktivis Islam, ia membawa Cak Nur ke sebuah organisasi Revivalis. Mereka mengklaim sebagai perkumpulan untuk membangkitkan kembali Islam melalui gerakan tarekat.[16]  Oleh mereka Cak Nur diminta berbicara tentang Islam di indonesia dalam bahasa arab. Keesokan harinya perrtemuan itu diberitakan di surat kabar setempat. Foto Cak Nur terpampang.
Setelah satu minggu di Istanbul Cak Nur melanjutkan perjalanan menuju Lebanon. Meskipun mayoritas orang Lebanon adalah Islam, namun dominasi Kristen sangat tampak akibat dari Kolonialisme Prancis. Sebelumnya ia membuat janji betemu dengan teman lamanya di pesantren gontor yang menjadi staf lokal kedutaan indonesia di Beirut. Cak Nur menemui mahasiswa-mahasiswa Islam di sana dan mengajak diskusi mereka.
Setelah tiga hari berlalu Cak Nur melanjutkan perjalanan menuju Suriah melalui jalur darat yang menghabiskan waktu kira-kira 3 jam dengan mobil. Di sini ia menemui Sudjono seorang duta besar Indonesia untuk Suriah, juga seorang jamaah masjid Al-Azhar (saat Cak Nur tinggal di asrama masjid Al-Azhar bersama Buya Hamka). Singkat cerita Cak Nur melanjutkan ke Bagdad, Irak.[17] Kemudian ke Kuwait[18] dan terakhir ke Arab Saudi.[19]     

KONTROVERSI PEMIKIRAN CAK NUR
Pada kenyataannya, pemikiran Nurcholish Madjid dipengaruhi oleh Mukti Ali, Deliar Noer, Harun Nasution, dan pemimpin terkemuka Masyumi, Muhammad Natsir. Pengaruh awal yang paling dominan, yang mewarnai pemikiran Nurcholish Madjid tidak bisa dilepaskan dari pengaruh lingkungan rumah tangga dan keluarga, dan pengaruh paling menonjol terletak pada sosok Abdul Madjid, seorang petani dari Jombang.[20]
Setelah Nurcholish Madjid menyelesaikan studinya di Amerika Serikat kemudian berjalan ke timur tengah, pemikirannya semakin menunjukkan kematangannya. Ia bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina. Di antara kegiatan utamanya adalah Klub Kajian Agama (KKA). Kegiatan tersebut berlangsung selama 17 tahun dengan lebih kurang 200 pertemuan. Dari kajian tersebut Nurcholish Madjid berhasil menulis sejumlah buku, antara lain Islam Doktrin dan Peradaban (1992), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (1994), Islam Agama Peradaban (1995), Islam Agama Kemanusiaan (1995). Di samping itu, terdapat beberapa buku lainnya, yang ditulis di luar hasil KKA antara lain, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (1987), Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan (1993), Pintu-pintu Menuju Tuhan (1994), Kaki Langit Peradaban Islam (1997), Pengalaman Religius Umroh Haji (1997), dan Dialog Keterbukaan (1997).
Islam Kemodernan dan Keindonesiaan merupakan karya pertama yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran Nurcholish Madjid yang terbit dua tahun setelah kepulangannya dari University of Chicago, Amerika Serikat, 1984. Penulisan karya ini dilatar belakangi oleh kenyataan bahwa konstatasi kaum muslim Indonesia telah mengalami kejumudan kembali dalam pemikiran dan pengembangan ajaran-ajaran Islam, yang kehilangan Phsylocogycal Striking Force dalam perjuangannya.[21] Pada prinsipnya, karya ini ingin menjelaskan bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan Khazanah pemikiran ke-Islaman Tradisional yang telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung Neo-Modernisme, Nurcholish Madjid cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks Nasional, dalam hal ini ke-Indonesiaan.
Selain buku tersebut, pada masa-masa awal, Nurcholish Madjid juga menulis beberapa artikel yang berkaitan dengan pemikiran Islam. Ia menulis sebuah artikel,“Modernisasi adalah Rasionalisasi, bukan Westernisasi” pada tahun 1968. Pada tahun 1992 diterbitkan karya Nurcholish Madjid yang berjudul, “Islam Doktrin dan Peradaban” yang diterbitkan oleh Paramadina. Buku ini menawarkan tawaran-tawaran kultural yang produktif dan konstruktif serta mampu menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk semua, tanpa eksklusifisme komunal. Menurutnya, orang muslim harus secara otentik mengembangkan paham kemajemukan. Bergandengan dengan itu dituntut pula kesanggupan mengembangkan sikap-sikap saling menghargai antara sesama anggota masyarakat, dengan menghormati apa yang dianggap penting pada masing-masing orang atau kelompok.
Dalam karya ini Nurcholish Madjid membahas universalitas Islam. Telaahan Nurcholish Madjid dalam penelitian karya ini adalah: “Pertama-tama yang menjadi sumber Universalitas Islam ialah pengertian perkataan “Islam” itu sendiri.[22] Sikap pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan tuntutan alami manusia. Maka agama secara harfiah antara lain berarti “kepatuhan” atau “ketaatan” yang sah yang tidak bisa lain daripada sikap pasrah kepada Tuhan (al Islam). Maka tidak ada agama tanpa sikap itu, yakni, keagamaan tanpa kepasrahan kepada Tuhan adalah merumuskan nilai-nilai Universal selalu ada pada inti ajaran agama yang mempertemukan seluruh umat manusia. Menurutnya, nilai-nilai universal itu harus dikaitkan kepada kondisi nyata ruang dan waktu agar memiliki kekuatan efektif dalam masyarakat, sebagai dasar etika sosial.
Dawam Rahardjo menilai bahwa tulisan-tulisan Nurcholish Madjid bersifat menjabarkan berbagai gagasan yang dilontarkan sebelumnya secara sepintas, misalnya mengenai sosialisme dan demokrasi, segi kemanusiaan dalam masyarakat industri, ilmu pengetahuan dan etos intelektualitas, Pancasila dan nilai-nilai keindonesiaan, ia juga selalu berbicara mengenai hubungan antara kepercayaan agama dengan modernitas. Menurutnya lagi, kesemuanya itu selalu diwarnai oleh gagasan pokoknya, yaitu Monotheisme Radikal.[23]
Cara berpikir Nurcholish Madjid jika ditelaah dari pemikirannya, ia termasuk dalam kelompok neo-modernisme[24] untuk dapat melihat neo-modernisme yang digulirkan Nurcholish Madjid dapat dilihat dengan buah hasil pemikirannya tentang peradaban Islam dan modernisme Islam. Ia juga sagat Intens terhadap persoalan keimanan (tauhid), akhlak, fiqh, tasawuf yang kesemuanya bagian dari kajian keislaman. Menurutnya, tantangan orang beragama yang paling berat adalah Syirik atau Polytheisme bukannya Atheisme, karena Syirik memberikan peluang  penyerahan kepada selain Tuhan Yang Maha Esa.
Pemikiran Nurcholish Madjid dapat dipetakan dalam konstruksi kesatuan gagasan tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Bentuk atau corak pemikiran Nurcholish Madjid adalah dialektika antara nilai universal dari sebuah ajaran Islam dengan nilai-nilai asli budaya Indonesia dan nilai-nilai kemodernan.[25]
Gagasan pemikiran Nurcholish Madjid yang menggambarkan upaya kontekstualisasi Islam dengan nilai keindonesiaan, yang sekaligus mencerminkan teologi keindonesiaannya, adalah soal terjemahan kalimat laa ilaaha illallah menjadi “Tiada Tuhan Selain Tuhan”[26], terjemahannya terdengar asing dan kontroversial bagi umat Islam Indonesia yang biasa dengan terjemahan “Tiada Tuhan Selain Allah”. Ia menganggap tiada Tuhan selain Tuhan itu adalah absah, hanya masalah bahasa saja, sedangkan hakikatnya adalah sama. Di sinilah semangat Inklusivisme atau Pluralismenya sangat mewarnai dan mendominasi pemikiran-pemikiran teologinya. Dan memang semangat inilah yang menjadi perekat dari bangunan pemikiran teologinya.
Corak pemikiran Islam Nurcholish Madjid yang lain adalah masalah kemodernan. Pemikirannya pada wilayah ini dilatarbelakangi oleh keinginannya memperlihatkan bahwa Islam tidak hanya bertentangan dengan isu-isu modernitas, tetapi juga memandang nilai-nilai yang mendukung modernisasi itu sendiri. Lebih dari itu, ia juga memperlihatkan bahwa Islam secara inheren dan aslinya adalah agama yang selalu modern.[27] Paling tidak upaya Nurcholish Madjid itu dimaksudkan memberikan landasan teologis terutama bagi golongan intelektual agar mampu memberikan respon positif terhadap proses modernisasi, tetapi tetap bertolak dan mengacu kepada iman Islam.[28] Percikan pemikiran Nurcholish Madjid tentang  proses modernisasi tidak lepas dari upaya menjinakkan atau mengadopsikan nilai-nilai yang inheren dengan zaman modern, seperti Rasionalisasi, Sekularisasi, Liberalisasi, dengan ajaran Islam. Tetapi usahanya tersebut ditanggapi secara salah oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia, sehingga untuk menghindari kesalah pahaman terhadap gagasan dan istilah yang digunakan, dalam tulisannya “Modernisasi ialah Rasionalisasi bukan Westernisasi”[29] ia mengantakan bahwa Modernisasi bukan Westernisasi, Rasionalisasi bukan Rasionalisme, Sekulerisasi bukan Sekulerisme, begitu juga dengan Liberalisasi bukan Liberalisme, karena di antara keduanya merupakan dua hal yang berbeda dan masing-masing mengandung implikasi yang berbeda pula.



PENUTUP
Pemikiran Nurcholish Madjid dapat dipetakan dalam konstruksi kesatuan gagasan tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Bentuk atau corak pemikiran Nurcholish Madjid adalah dialektika antara nilai universal dari sebuah ajaran Islam dengan nilai-nilai asli budaya Indonesia dan nilai-nilai kemodernan.
Percikan pemikiran Nurcholish Madjid tentang  proses modernisasi tidak lepas dari upaya menjinakkan atau mengadopsikan nilai-nilai yang inheren dengan zaman modern, seperti rasionalisasi, sekularisasi, liberalisasi, dengan ajaran Islam. Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap gagasan dan istilah yang digunakan, dalam tulisannya “Modernisasi ialah Rasionalisasi bukan Westernisasi” ia mengantikan bahwa modernisasibukan westernisasi, rasionalisasi bukan rasionalisme, sekulerisasi bukan sekulerisme, begitu juga dengan liberalisasi bukan liberalisme, karena di antara keduanya merupakan dua hal yang berbeda dan masing-masing mengandung implikasi yang berbeda pula.
Nurcholish Madjid dianggap sebagai ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan di masanya, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.
Nurcholish Madjid dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman/ke-bhinneka-an keyakinan di Indonesia. Menurut Nurcholish Madjid, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Keyakinan tersebut sangat mungkin berbeda-beda antar manusia satu dengan yang lain, walaupun memeluk agama yang sama. Hal ini berdasar kepada kemampuan nalar manusia yang berbeda-beda, dan dalam hal ini Nurcholish Madjid mendukung konsep kebebasan dalam beragama. Bebas dalam konsep Nurcholish Madjid tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih. Nurcholish Madjid meyakini bahwa manusia sebagai individu yang paripurna, ketika menghadap Tuhan di kehidupan yang akan datang akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan kebebasan dalam memilih adalah konsep yang logis. Manusia akan bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang ia lakukan dengan yakin. Apa yang diyakini, itulah yang dipertanggung jawabkan. Maka pahala ataupun dosa akan menjadi benar-benar imbalan atas apa yang secara yakin ia lakukan.



Daftar Pustaka

Ahmad Gaus Af, Api Islam Nurcholis Madjid,(Jakarta, PT Kompas Media Nusantara).
Dawam Rahardjo, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung : Mizan, 1989.
Greg Burton, Gagasan Islam Liberal, Jakarta : Paramadina, 2001.
Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, 1989.
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, 1992.
M. Dawam Raharjo, Islam dan Modernisasi,(Bandung : Mizan, 1989).
Wahib (Jakarta: LP3S, 1981).



[2] Cak Nur meyakini bahwa manusia sebagai individu yang paripurna, ketika menghadap Tuhan di kehidupan yang akan datang akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan kebebasan dalam memilih adalah konsep yang logis.

[3] Ahmad Gaus Af, Api Islam Nurcholis Madjid,(Jakarta, PT Kompas Media Nusantara), hlm.10
[4] Ibid.,hlm.13
[5] Masyumi adalah singkatan dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia yang merupakan Federasi dari golongan partai Islam terbesar di Indonesia awal kemerdekaan tahun 1945.
Keputusan keluarnya NU dari Masyumi dinyatakan dengan resmi pada kongres NU bulan Mei tahun 1953 di Palembang, selain meniggalkan Masyumi, NU juga memproklamasikan dirinya sebagai partai.
[7] Ahmad Gaus Af, Api Islam Nurcholis Madjid,(Jakarta, PT Kompas Media Nusantara),hlm.14
[8] Ibid, hlm.18
[10] Ibid., 31
[11] Rentang waktu ini terhitung sejak keluarnya surat perintah 11 maret (supersemar) 1966 dari presiden sukarno ke mayjen soeharto selaku panglima angkatan darat untuk “mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.”sejak itu transisi kekuasaan dimulai sampai diselenggarakannya pemilihan umum pertama di masa soeharto pada 1971 untuk menghasilkan kepemimpinan yang defenitif.
[12] Kunjungannya tersebut disponsori oleh Council On Leader And Spesialish (CLS) yang berpusat di wasington.
[13] Djohan Efendi dan Ismed Natsir (eds), Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib (Jakarta: LP3S, 1981). h. 161
[14] Gambaran Dorodjatun sebagai kader PSI tentang mahasiswa indonesia yang kolot rontok semua, sehingga ia menceritakan wawancara itu kepada teman-temannuya dengan nada penuh kekaguman.
[15] Selama tinggal di rumah ruslan cak nur sering terlibat dalam diskusi kecil tentang islam, karena ia melihat sejumlah buku-buku islam dalam perpustakaan pribadi ruslan.
[16] Karena itu mereka berpakaian putih-putih alaseorang sufi.
[17] Tiba di Stasiun bus Bagdad, cak nur disambut oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan kawan-kawan, itu kali pertamanya bertemu dengan gus dur meskipun sama-sama orang jombang dan berasal dari keluarga yang masih kerabat. Gus dur membuat acara ceramah untuk cak nur dan bebrapa kali mengundang mahasiswa untukberdiskusi dimana gus dur sendiri yang menjadi moderatornya.
[18] Di kuwait cak nur bertemu dengan agil teman di wasington, yang sebelumnya membuat janji bertemu di kuwait.
[19] Di arab saudi cak nur kembali bertemu teman barunya yang sempat beberapa kali berdiskusi di wasington yaitu Farid Mustafa, Doktor Engineering yang menjadi dosen di Universitas Riyadh king fahd.    
[20] Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, 1999, h. 71-72. Dorongan lain yang tidak bisa terlewat dalam membentuk pemikiran Nurcholish Madjid adalah Hamka. Selama kurang lebih lima tahun, yang pada saat itu masih menjadi mahasiswa dan tinggal di Masjid Agung al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Komaruddin Hidayat mengungkapkan tentang kedekatan dan rasa kagumnya Nurcholish Madjid kepada Hamka. Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansi Islam dalam Sejarah, Jakarta : Paramadina, 1995, h. vii.
[21] Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, 1989, h. 204
[22] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, 1992, h. 426
[23]Dawam Rahardjo, Islam dan Modernisasi: Catatan atas Paham Sekularisasi Nurcholish Madjid, dalam Pengantar, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung : Mizan, 1989, h. 22 & 29.
[24] Perbedaan mendasar antara kaum modernisme dengan neo-modernisme terletak pada perhatiannya dalam hal tradisi. Kaum modernis berusaha membangun visi Islam dimasa modern, dengan sama sekali tidak meninggalkan tradisi warisan intelektual Islam, bahkan jika mungkin mencari akar-akar Islam untuk kemodernan. Sedangkan kaum modernis lama lebih banyak bersikap apaloginetik terhadap gagasan modernitas. Greg Burton, Gagasan Islam Liberal, Jakarta : Paramadina, 2001.
[25] Unsur-unsur keindonesiaan sangat erat kaitannya dengan keislaman bahkan keindonesiaan tidak bisa dipisahkan dengan keislaman maupun sebaliknya. Karakteristik keindonesiaan yang dikemukakannya adalah bahwa kita menerapkan Islam harus paham dengan kultur dan budaya lokal. Di Indonesia belumadanya budaya yang mapan, karena masih dalam proses pertumbuhan, perkembangan dan kemajemukan. Nurcholish Madjid menjelaskan: “Bahwa setiap langkah meaksanakan ajaran Islam di Indonesia harus memperhitungkan kondisi sosial dan budaya yang ciri utamanya adalah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajemukan. Belumada suatu pola sosial budaya yang dapat dipandang sebagai bentuk permanen keindonesiaan. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, 1992, h. xvii.
[26] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, 1992, h. ii.
[27] M. Dawam Raharjo, Islam dan Modernisasi, dalam pengantar Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung : Mizan, 1989, h. 27
[28] M. Dawam Raharjo, Islam dan Modernisasi, dalam pengantar Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, 1989, h. 29-31.
[29] Penjelajahan terhadap masalah ini dapat dilihat dalam khusus “Modernisasi ialah Rasionalisasi Bukan Westernisasi”. Makalah ini juga terdapat  dalam Nurcholish Madjid, Islam Keindonesiaan dan Kemodernan, h. 171-203. Menurutnya, ia ingin menekankan penting berpikir rasional, sehingga akan terjadi apa yang disebut dengan proses perombakan pola berpikir dan tata kerja lama yang tidak akliah, dan upaya menerapkan penemuan mutakhir manusia di bidang ilmu pengetahuan, sebagai hasil rasio atau pemahaman manusia terhadap hukum-hukum obyektif yang menguasai alam, ideal, material, sehingga alam bertindak menurut kepastian tertentu yang harmonis.

Reaksi:

1 komentar: