Tuesday, 4 June 2013

PANGERAN KCEBONG DAN PUTRI KODOK



Suatu hari di kerajaan kodok musim bertelur di rayakan, jamuan makanan-makanan telah disiapkan, istana kali itu ramai di penuhi tamu-tamu dari luar telaga, Tamu-tamu yang datang  dari berbagai kerajaan  salah satunya raja ngorek bersama sang istri. Tampak ibu-ibu para bangsawan siap untuk bertelur, diiringi lagu-lagu dan musik para bangsawan, Raja kodok tampak bimbang menoleh-noleh jam besar pada dinding istana, “sudah jam seginian koq para ibu-ibu belum punya nafsu buat nelur?” Tanya sang raja kepada mentri yang sedari tadi tengah berdiri tegap di samping kirinya, di sebelah kanannya sosok putri  kecil sang raja duduk manis bersama sang ibunda.
“Teeeeet teeeeeet ettttttttttt” bunyi teropet.
“para hadirin yang berbahagia, senang sekali dalam perayaan telur kali ini para raja dan ratu berkesempatan hadir,  kami mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kehadiran kalian semua, dan……….. ” kata-sambuatan raja kodok telaga sebagai tanda perayaan bertelur akan segera dimulai.
Tampak pagar besar membatasi perayaan tersebut, petugas keamanan kodok telaga di kerahkan untuk berjaga-jaga, para rakyat di berikan sumbangan berupa makanan, saat-saat inilah yang sangat ditunggu-tunggu  rakyat telaga. Perayaan bertelur yang di adakan ketika musim penghujan ketika para kodok kebanjiran makanan karena kamakmuran akan segera datang pasca musim penghujan ini.
“hadirin yang berbhagia, para raja dan ratu marilah menghitung mundur mulai dari lima” intruksi raja telaga mengarahkan para hadirin menghitung mundur dan para ibu-ibu tak terkecuali para ratu akan bertelur, konon para putri sebuah setiap kerajaan akan mengeluarkan telur sebanyak 3 sampai empat  telur namun hanya satu yang bertahan hidup. Setelah itu telur yang mampu bertahan hidup itulah yang akan mewarisi kerajaan berikunya setelah raja mangkat.
“limaaaaaa,  empattttttt, tigaaaaaaa, duaaaaaa, satuuuuuu, jdaaaarrrrrrrrkk” kembang api di bakar  menghiasi langit-langit istana telaga, makanan dan minuman mulai dibagikan kepada rakyat stempat, sorak-sorai keramaian memuncak, musik di mainkan. 
“ibu perdana mentri bertelur lima telur, yeeeeeeee” . “ratu kodok batu empat telur, yeeeeee”.  Ibu-ibu perdana mentri dan para ratu sibuk mengurus telur-telur mereka, namun tampak ada keganjalan di tengah hiruk pikuk itu, tampak raja kodok ngorek bingung dan resah melihat ratunya belum juga mengeluarkan telur satupun. Waktu hampir habis, tampak kesedihan di raut wajah kedua pasangan raja dan ratu kodok ngorek itu menjadi pusat perhatian para hadirin.
Perayaan bertelur sudah ditutup, kesedihan mendalam raja kodok ngorek dan istrinya yang bertahan di telaga di saat para raja dan ratu dari segala penjuru satu persatu berlalu. Tiba-tiba sang ratu sakit perut dan lantas ia pun pingsan, ketika itu raja melihat tiga butir telur keluar dari tubuh sang istri, betapa bahagianya sang raja, “lihat ini calon penerusku kelak” kata kodok ngorek saking senangnya.  Namun apa lacur, ketiga telur tersebut tak bernyawa, tim medis berulang ulang kali memeriksa siapa tahu ada yang salah. Namun fonis sang medis tak membuat sang raja merasa lega, malah ia merasa terpukul.
Kodok ngorek dan ratunya pun pulang tanpa menghiraukan ketiga telur tersebut, keduanya enggan membawanya hingga air telaga membawanya mengalir keluar telaga menuju persawahan yang jauh di samping gunung.
………………….@@
 Suatu hari musim penghujan sudah berakhir, waktunya kodok gunung keluar dari lubang-lubang mereka  menuju sungai atau telaga untuk mencari bekal makanan yang akan dibawakan kepada anak-anaknya di lubang.  Raja kodok gunung mengumpulkan rakyatnya dan memeriksa apa saja yang rakyatnya dapatkan, “oh yang itu kita tidak perlukan” sambil ia menunjuk-nunjuk  bangkai belalang, “makanan ini adalah milik musuh kita, konon waktu itu kodok gunung dan kodok telaga bermusuhan sempat beberapa kali terjadi peperangan yang menewaskan banyak sekali korban, ibu-ibu menjadi janda, anak-anak menjadi yatim dan yang paling berdampak serius adalah makanan kerajaan kodok gunung berada di telaga begitu juga sebaliknya.
“wahai raja, aku dan istriku menemukan anak keturunan kodok ngorek keluarga dari kodok telaga” kata salah satu warga. “tiga anak namun salah satunya masih hidup di kali” tambahnya. “ baiklah berikan padaku, biarkan kerajaan yang merawatnya” konon sang raja yang beristri 10 itu tidak pernah dikaruniai seorang anak, saat ini lah saat yang dinanti-nanti untuk mempunyai anak meskipun ia harus memungut anak keturunan musuhnya.
………….@@@
Telur itu menetas menjadi kecebong yang tidak biasa, tubuhnya kekar, seumuran dia seharusnya sudah berevolusi menjadi kodok pada umumnya, namun hal itu tidaklah terjadi. Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu begitu saja, sang kecebong telah dibekali dengan kemampuan layaknya kodok gunung biasanya, namun sebagai calon seorang raja ia tampak tidak memperdulikan bentuk tubuhnya yang tidak kunjung berubah menjadi kodok itu. Beberapa kali rakyatnya berburu makanan ke telaga hanya dia saja yang tidak pernah diperbolehkan oleh ayahnya.
……@@@@
“wahai pangeran, mengapa kau begitu murung” Tanya seeorang sahabat yang sejak tadi sibuk memperhatikan sikap calon rajanya tertunduk diam tanpa kata. “aku hanya bingung, kenapa aku tidak betah hanya berputar-putar disini, mungkin itu sebabnya aku tidak sedewasa kamu padahal umur kita sama” kata sang pangeran. “kenapa pangeran tidak pergi saja ikut berburu makanan ke telaga, siapa tahu di tengah perjalanan tubuh pangeran berubah” . “aku sebenarnya sangat ingin ikut tapi ayahandaku tidak pernah mengizinkan aku pergi ke sana”. Memangnya kenapa pangeran?”. Akupun tidak tahu, aku juga tidak berani bertanya” tandas sang pangeran.
……..@@@@@
Dalam hati sang pengeran meronta-ronta meminta untuk pergi meninggalkan istana untuk mencari pengalaman dan jati dirinya, siapa tahu ia akan menjadi kodok.
Hari iniia putuskan untuk pergi ditemana seorang pengawal pribadi dan sahabatnya itu, “sudah sampaikah kita di telaga wahai pengawalku” Tanya pangeran. “oh tinggal sebentar pangeran”. “kita akan berbelok, nah itu lah telaga terebut, namun pangeran harus tetap merunduk sebab di sana pengawalannya sangat ketat, apa bila ketahuan kita sebagai kodok gunung akan habis” lanjut pengawal. “memangnya kenapa?” Tanya pangeran penasaran. “rajaan pangeran dengan kerajaan telaga bermusuhan”.
………………..@@@@@@@@
Beberapa menit kemudian merekapun tiba, tampak meraka berbaur dengan masyarakat kodok telaga, tak ada kecurigaan terjadi, semua berjalan sesuai rencana. “uh, ternyata di sini indah juga ya?” sang pangeran terkagum-kagum melihat Susana lingkungan telaga yang asri tidak seperti di gunung. “ awas-awas putri kodok akan lewat di jalan ini” kata salah satu masyarakat menyapa mereka yang sedang berjalan. Masyarakat merunduk, semua kodok terkagum-kagum akan kecantikan putri raja kodok telaga itu. Hanya pangeran kecebong sendiri yang tidak merunduk, ketika itu mata sang putri kodok dan pangeran   kecebong bertemu, terfokus satu sama lain, “breg, berg” petungan mendarat di kepala sang pangeran “aduhhhhh” pangeran pun di tangkap dan dibawa ke istana untuk diadili. Sementara pengawal dan sahabat itu tidak bias berbuat apa-apa, mereka hanya terdiam membisu, “sudah ku katakan kita harus merunduk” kata seekor kodok di samping keduanya itu. “siapa sih itu pasti penyusup dari gunung, makanya dia tidak tahu peraturan di sini”.
………..@@@@@@@@@@
Di pengadilan…..
“hadirin yang berbahagia, hari ini kita kedatangan seorang penyusup dari gunung, dan hari ini kita akan eksekusi langsung” kata ketua hakim. “ ops sebentar dulu, sebelum kalian mengeksekusi dia ada baiknya kita tanyakan apa motifnya kemari” kata sahabat yang menyamar sebagai rakyat telaga membela. “kenapa kamu datang kemari” Tanya seorang hakim. “ aku adalah orang yang akan membuat kalian semua makmur” kata sang pangeran, “kenapa demikian?” Tanya hakim.
Suasana tegam bercampur emosi dan kebingungan atas apa yang baru saja terucap seekor kecebong. “aku bukan hanya seekor kecebong biasa, aku adalah seorang pengeran, aku tahu kerajaan ini mengambil makan di wilayah ku, aku tahu itu namun kami tidak pernah menghukum seperti  yang  kalian lakukan ini”. Di saksikan oleh tamu-tamu dari luar telaga, kerajaan-kerajan yang pernah datang ketika perayaan bertelur itu pun datang. “sudah-sudah dia tidak bersalah, kita hanya terlalu mempertahan kan kebiasaan lama saja, coba kita bayangkan apa yang akan terjadi ketika kita membunuhnya?, pasti akan terjadi peperangan kembali, lagi pula tidak menutup kemungkinan hal yang sama akan berlaku di gunung, lantas bagaimana kita bias makmur kalau ketika kita mencari makanan saja kita tidak berani kesana” kata sosok seorang wanita cantik, putri kodok.  Semua hadirin tertunduk, pangeran kecebong juga merunduk.” Sudah kalian boleh bubar dan kamu wahai penyusup, pangeran gunung ayahku ada sesuatu untukmu” lanjutnya.
……@@@@@@
Di istana….
“umurku sudah tidak lama lagi, aku ingin melakukan perdamaian dengan ayahmu” kata raja kodok. “ baiklah aku akan membawanya kemari” jawab pangeran kecebong. ………….
Bebarapa hari kemudian datanglah iring-iringan raja kodok gunung lengkap dengan  penjagaan ketat. Sesampai di istana mereka di persilahkan duduk.
“aku sudah ata tahu apa niatmu mengundangka kemari” kata raja gunung. Konon dulu kerajaan gunung dan kerajaan telaga bersaudara. Kakek dari kakek, kakeknya raja telaga yang sekarang bersaudara dengan kakek dari kakek, kakeknya raja gunung yang sekarang.  Konflik terjadi ketika ratu mempunyai dua telur yang menetas sehingga harus membuang satu telur kegunung sebagai rasa syukur terhadap limpahan makanan yang bersumber di gunung. Hingga akhirnya telur tersebut menjadi seorang raja di gunung dan dari zaman itulah konflik terjadi.
“maaf tentang anakmu” kami tidak sopan kepada seorang penerus tahta kerajaan. “dia bukan anaku”  jawab raja gunung. Sontak membuat seisi ruangan tercengang-cengang, “hati sang kecebong hancur berkeping-keping mendengar kata-kata itu, lantas ia langsung meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun, dalam hatinya berikir apakah gara-gara ia sebagai produk gagal hingga tidak di akui, atau juga karena keadaannya sebagai kecebong yang tidak berubah-berubah menjadi kodok seperti pada umumnya.
“dia ditemukan di kali oleh rakyatku,  banyaknya tiga namun hanya satu yang masih hidup” lanjut raja gunung, sang kcebong ntah sampai mana sudah menghilang setelah kata-kata yang menghujam jantungnya itu mendarat di telinganya. Di samping itu ratu kodok ngorek mengngat-ngingat  kejadian ketika hari perayaan bertelur itu, ia lantas berkat. “suamiku telur itu adalah telur kita”  sang ratu memberitahu suaminya.”hadirin-hadirin kecebong itu adalah anakku”. “dia adalah anak seekor raja kodok ngorek dan dialah penerusku” lacur apa yang terjadi, hal itu tidak merubah keadaan, kecebong telah hilang, ia pergi dari tadi.. hilang di tengah-tengah keramaian.
…………@@@@@
Lalu di perintahkan untuk mencari  kecebong itu, “barang siapa menemukan seekor kecebong yang mirip dengan lukisan yang tergambar di atas kertas sayembara ini akan di berikan hadiah dari raja kodok ngorek” begitu kata seorang perdana menteri ketika mengumumkan berita gembira itu kepada rakyatnya.
Di lokasi yang lain kecebong melupakan apa saja yang terjadi barusan kepadanya, hanya saja di terfikir kepada ratu yang sempat bertemu mata dengannya. Tanpa sadar ekornya mengecil lama kelamaan mengecil hingga akhirnya menghilang, ia berubah menjadi seekor kodok yang tampan, (maklum lah seorang keturunan pangeran dari raja kodok ngorek)  tubuhnya yang kekar melambangkan bahwa dia siap menjadi pangeran yang sebenarnya. Tanpa fikir lama iapun pulang dengan keadaan yang sempurna itu.
……..@@@@@
Lantas di ruangan itu tak satupun dapat mengenalnya, hanya saja sang putri merasa mengenal sosok yang ada di tengah-tengah kerumunan yang mengaku seekor kecebong itu. Hingga tolakan demi tolakan menghujam jantungnya sekali lagi dan iapun memutuskan untuk pergi berlalu.  Putri mencari-cari sosok yang dilihatnya tadi namun ia tidak menemukanya, ia berlari ke jalan, di dapatka rakyatnya semua merunduk dan si kecebong yang kini menjadi kodokpun tak merunduk sama sekali, sang putri tersenyum. “aku tahu kamu adalah pangeran kodok ngorek, dan aku yakin itu karena tatapanmu begitu berbeda dengan yang lain”. Aku tahu itu, tapi apakah kamu tidak melihat ayahku dan ayah angkatku saja tidak menerimaku?” .
……………@@@@
Seminggu sudah berlalu kisah cinta sang putri dengan kodok ngorek di kekang sang raja, tidak seharusnya putri menjalin hubungan dengan seekor kodok yang biasa-biasa saja. Walaupun bayak yang melamar sang putri namun hatinya hanya untuk kodok ngorek, hidupnya telah ia berikan kepadanya.  Kodok ngorek memutuskan untuk pulang kehabitatnya sesama kodok ngorek, sekitar beberapa hari perjalanan ia akan sampai di tempat tujuannya itu.
Pangeran kodok itu mengikuti sayembara pertarungan yang memperebutkan posisi penjaga raja kodok ngorek, nyawanya ia pertaruhkan untuk pertarungan itu, demi misinya dapat bertemu dengan ayahnya tercinta, hingga akhir iya pun menjuarai sayembara itu dan di anugrahi hadiah langsung dari ayahnya sendiri. “ apakah salah bila seorang anak yang dibuang, yang dulunya sempat di sangka tak bernyawa, kemudian hidup, menjadi kecebong, lalu bertemu dengan ayahnya untuk pertama kalinya lalu berubah menjadi kodok yang sebenarnya, lantas ia tidak di akui akibat perubahan fisik itu bagaimana pendapat anda wahai rajaku” Tanya seorang pengawal baru sang raja yang tidak lain adalah anaknya sendiri. “andai saja ia benar-benar  kecebong yang aku cari aku akan terima karena pasti ada kontak batin diantara aku dan dia” jawabnya. “lantas kenapa anda tidak melihatku dengan teliti, apakah kit tidak mirp? Atau apakah kita tidak mempunyai kontak batin?” tanyanya kembali. “siapa kau sebenarnya” mata yang berkaca-kaca tampak dari sang raja. ‘ aku adalah anakmu, yang selama ini kau cari, yang kau buang ketika kau mengira aku mati” ….
Suasana seru, bahagia sekaligus rasa syukur yang tak terhingga dirasakan kerajaan itu, diumumkan lah berita tersebut hingga kepelosok negeri.
Pangeran kodok akhirnya menikahi putri kodok telaga, kehidupan dan kedamaian tercipata dengan di angkatnya pangeran menjadi raja karena ia tahu betul bagaimana rasanya mencari makan ke gunung dan di telaga sendiri.

The end

by: agus dedi putrawan 

Reaksi:

1 komentar: