Friday, 24 May 2013

ISLAM DAN ETIKA JURNALISTIK (Islam dan Etika Jurnalistik Masa Kini)



PALAH

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Institutn Agama Islam Negeri(IAIN) Mataram




ABSTRAK


Makalah yang berjudul “Islam dan Etika Jurnalistik”ini bertujuan untuk mengetahui bagai mana ketentuan Islam dalam Mengatur, Mengajak, Membatasi dan Melarang salah satu tindakan atau etika yang kiranya bertentangan dengan Nilai-Nilai asusila yang berdampak pada masyarakat. Dalam  makalah ini, penulis menggunakan metode pengamatan orisinil dan analisis data teori-teori para ahli dimana untuk memperoleh atau memperkuat data tentunya melihat penomena-penomena yang sedang terjadi di dunia media atau Jurnalistik yang sampai saat ini kluar dari tuntunan Islam. Banyak informasi atu yang dalam bentuknya pristiwa yang penulis temui, baik yang sedang terjadi atau yang sudah terjadi yang dapat kami penulis simpulkan dengan berbagai kategori. ketidak adanya batasan media atau jurnalis dalam mengexspos berita, kontroling media sudah di lepaskan, keberpihakan media kepada naungan jurnalis Jadi jika kesemuanya itu ada pada awak media atau jurnalis, maka peran jurnalis semakin di kedepankan oleh masyarakat, khalayak atau publik, ketika menjiwai ketentuan-ketentuan Yang di dasarkan pada Ketentuan Islam.


Kata kunci:

Islam,Etika,Explorasi,Jurnalistik,kontroling,keberpihakan,
Masa kini,batsan




A.                 PENDAHULUAN
Islam merupakan salah satu ajaran agama yang di ridhoi oleh Allah SWT atau agama yang di  percayai oleh semua umat Nabi Muhammad SAW, dan islam  berfungsi menjadi salah satu payung atau naungan berpijaknya, yang di dalamnya di atur oleh dua ketentuan pokok atau landasan berteori atau bertindak yang harus mengacu pada kedua landasan tersebut. di antaranya adalah Alqur’an dan Al Hadist yang keduanya memuat semua ketentuan-ketentuan yang  mana yang harus di jalankan atau yang mana yang harus di hindari, yang kiranya tidak sesui dengan ketentuan yang di atur Oleh Allah swt yang di amanatkan untuk  manusia melewati Nabi Muhammad SAW baik yang menyangkut mengenai tindakan maupun yang akan merusak dirinya dalam kehidupannya.
Oleh karenanya Islam dan Etika Jurnalistik merupakan perpaduan tiga kata di antaranya, Islam, Etika, Jurnalistik yang kemudian di rangkai dalam satu kalimat yang umum atas makna yang terkandung di dalamnya yang memerlukan pengkajian oleh penulis.yang sama-sama menjadi plopor  kebaikan dalam kehidupan manusia seutuhnya, Etika dapat di maknai  secara umum Pembicaraan tentang kode etik jurnalistik,mau tidak mau akan menyinggung tentang etika. Etika adalah pengetahuan yang membahas ukuran kebaikan atau kesusilaan perilaku jurnalis dalam masyarakat publik. Orientasi etika adalah untuk mengetahui bagaimana keharusan bertindak, berprilaku sebagai seorang jurnalis dalam kontek berita atau memberikan informasi kepada masyarakat atau khalayak. Etika mengantar orang kepada kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional, untuk membentuk pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang dapat dipertanggungjawabkannya sendiri.Etika menyanggupkan orang untuk mengambil sikap rasional terhadap semua norma, baik norma-norma tradisi maupun norma-norma lain. Sekaligus etika membantu manusia untuk menjadi lebih otonom.Otonomi manusia tidak terletak dalam kebebasan dari segala norma dan tidak sama dengan kesewenang-wenangan, melainkan tercapai dalam kebebasan untuk mengakui norma-norma yang diyakininya sendiri sebagai kewajibannya. (von Magnis, 1979).
Kode etik (canon) merupakan pedoman yang dirumuskan secara praktis. Suatu kode etik hanya akan menjadi rumusan tak bermakna jika hakekatnya tidak disadari dalam konteks yang berasal dari luar kode itu sendiri. Dengan kata lain, teks dalam kode etik dianalisis atau di pahami bukan dengan hanya memahami artinya, tetapi dengan melihat konteksnya pada aspek-aspek diluar kode itu sendiri, yaitu pada eksistensi profesi/kelompok yang memiliki kode tersebut misalnya jurnalis atau dalam lingkungan yang lebih luas.



B.                 Islam,Etika Dan Jurnalistik


                   I.     Islam Versus Wartawan
Islam berperan sebagai subyek sekaligus obyek, sehinnga berperan sebagai pembentukan manusia Islam secara utuh[1] . Agama yang benar yang di akui oleh Allah menggunakan Al-qur’an sebagai medianya, kemudian Nabi Muhammad SAW merupakan wartawan yang dipanggil atau pilihan Allah yang suci, yang tentunya  membawa berita yang benar yang dalam istilah jurnalistik-nya adalah berita yang akurat. yang dibawa langsung dari Allah yang di beritakan lewat medianya Al-qur’an yang merupakan salah satu pedoman kepercayaan manusia khususnya umat Nabi Muhammad SAW atau penganutnya, yang memiliki ketentuan masing-masing dalam kegiatan sakralnya atau jembatan untuk mendekatkan diri kepada sang kholik atau yang maha kuasa.[2]Oleh karena itu dalam islam tentunya ada sistem-sistem yang harus di jaga dan yang harus di lakukan, karenaya melihat kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi akhir-akhir ini telah membawa keberuntungan bagi umat manusia pada beberapa pihak, namun di pihak lain juga banyak bahaya-bahaya yang muncul atau yang akan memberikan kehancuran bagi umat manusia karena islam sudah di plesetkan ke arah dunia baru yaitu ajaran teknologi yang di jadikan sebagai bapaknya segala sesutatu yang berkaitan dengan kehidupan.
Kembali kita coba memaknai Islam,mengajak kita kearah perdamaian dan hidup berdampingan dan melarang kita untuk menghasut satu sama lain sehingga di panggillah seorang wartawan handal yang langsung di nobatkan Allah sebagai pembawa berita yang akurat.Dalam palsapah pancasila tertuang semboyan  kemanusiaan yang adil dan beradap itu merupakan salah satu tekanan bagaimana kita sebagai insan sosial harus saling menghargai,saling tolong menolong,bagaikan sebuah bangunan yang berdiri tegak,karena gabungan dari batu-bata,pasir dan semen,sehingga terbentuklah sebuah bangunan yang kokoh.Begitupun Rasulullah SAW mengajarkan umat-Nya untuk saling jaga menjaga satu dengan yang lain-Nya,Karena Agama Islam adalah agama terakhir yang di bawa Nabi Muhammad SAW, sebagai agama penyempurna sesuai dengan firman Allah: yang artinya:

’Sesungguh-Nya Agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Agama islam’’



Lalu keterkaitan antara islam dan wartawan di mana dan bagaimana.......tentu penulis akan mengajak para kaum akademisi untuk melihat apa sebenarnya pungsi idealnya wartawan,wartawan merupakan penghimpun berita dari suatu kejadian atau pristiwa untuk di jadikan sebuah berita atau di beritakan sehingga wartawan di tuntut oleh islam untuk tidak menghimpun berita yang salah atau berbeda dari kejadian atau pristiwa yang sebenarnya,contoh misalnya wartawan islam yang sampai saat ini di agungkan oleh umat islam yaitu Rasulullah SAW..


C.                 Explorasi Fungsi Etika
Dalam buku etika kehumasan di jelasakan pengertian etika secara runut mulai dari latar belakang bahasanya dan pengertiannya secara lengkap bahwa etika dapat di artikan dalam bahasa yunaninya “Ethos’’,yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan yang berkaitan erat dengan perkataan moral yang mengatur pola hidup seseorang yang berasal dari naluri pribadi sehingga dalam beberapa buku di jelaskan makna etika, begitu juga dengan etika yang di maknakan secara kultur budaya atau adat istiadat pada masyarakat primitiv yang selalu menyinggung masalah kebiasaan baik yang membuat orang lain tidak merasa terganggu,yang tentunya yang berkaitan erat dengan susila,atau Akhlak yang selalu mengiringi setiap orang untuk melangkah.[3]
Etika berusaha memahami ukuran/kriteria perilaku. Ukuran perilaku selamanya berkaitan dengan 2 aspek, yaitu pertama, aturan yang ditentukan oleh sistem sosial; dan kedua, pilihan nilai yang dianut secara pribadi. Sistem sosial merupakan satuan kehidupan masyarakat dimana didalamnya terdapat interaksi bagian-bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Bagian-bagian yang berinteraksi ini sebagai suatu institusi sosial ditandai oleh adanya tindakan-tindakan yang memiliki pola tertentu. Berbagai institusi sosial dalam sistem sosial didukung oleh profesi tertentu. Profesi adalah kegiatan teknis yang berfungsi dalam kehidupan sosial, dijalankan oleh pelaku-pelaku khusus. Dengan kata lain, profesi adalah kegiatan yang hanya boleh dijalankan oleh pelaku tertentu yang diakui secara kolektif oleh sesama pelaku profesi (informal) ataupun legal oleh pemegang otoritas (formal).ketika penulis dan pembaca menyimak makna atau pengertian Etika di atas tentu banyak hal yang mau di pertanyakan..pertama apakah jurnalistik saat ini sudah memegang otoritas nilai kebenaran etika jurnalistik.......?kemudian pertanyaan lain apakah hari ini pemegang otoritas tertinggi jurnalistik atau pimpinan sudah membenarkan ketentuan jurnalistik yang harus berdasarkan sebuah profesi atau kemampuan..........?mungkin dengan serentak para pembaca dan penulis mengatakan tidak.Lalu apa yang akan kita berikan hari ini oleh kita sebagai insan akademisi
Perilaku atau pelaku profesi ditentukan oleh interaksi institusi yang didukungnya dengan institusi lainnya. Sifat interaksi tersebut dapat berupa determinan/dominan-submisif,atau egaliter. Dalam masyarakat dengan sistem interaksi yang bersifat egaliter, hubungan antar institusi bersifat struktural fungsional. Setiap pola kegiatan dalam institusi merupakan tindakan yang bertolak dari harapan/tuntutan (expectation) dari institusi lainnya. Interaksi yang berlangsung merupakan berjalannya peran masing-masing pelaku dalam institusinya. Ukuran perilaku berdasarkan kesesuaian tindakan dengan peran yang dijalankannya dalam institusi, agar institusinya dapat fungsional dalam sistem sosial.Ukuran perilaku dapat pula berdasarkan pilihan pribadi, bertolak dari kesadaran pribadi untuk memilih makna hidup. Setiap orang pada dasarnya harus menjawab sejumlah pertanyaan mengenai kehadirannya dalam kehidupannya. Pertanyaan eksistensial ini membuat seseorang menjadi sadar mengapa ia hadir dalam kehidupannya, dan untuk apa kegiatan yang dijalankannya. Jawaban untuk pertanyaan eksistensial ini sedikit banyak membuat orang melakukan renungan filosofis alakadarnya, untuk mencari makna dari kehidupannya. Ada yang sampai pada kesadaran eksistensial bahwa kehidupannya untuk menjalani kewajiban yang datang dari Tuhan (asketisme). Ada yang menyimpulkan kehidupannya sebagai kewajiban untuk menjalani suatu ideologi/cita-cita sosial (idealisme). Setiap pilihan nilai hidup selalu memiliki konteks yang tinggi (Tuhan), atau luas (masyarakat, bangsa). Karenanya kesadaran akan pilihan hidup benar-benar merupakan pilihan atas makna kehidupan, bukan karena dorongan-dorongan penyimpangan psikologis maupun pragmatis. (Penyimpangan psikologis misalnya: kepingin dikagumi, kepingin membalas dendam secara sosial. Pragmatis: isteri perlu biaya kosmetik, perlu uang membangun rumah).oleh karena itu peran etika atau fungsinya adalah menekan idealisme negativ yang timbul pada diri pribadi yang kiranya menimbulkan keresahan pada publik atau khalayak.

D.                Menelusuri Fungsi Pokok Jurnalistik
Secara umum,baik media cetak maupun media elektronik,keduanya memiliki fungsi yang sama,yaitu:(1) Menyiarkan informasi .Ini merupakan fungsi utama media masa sebap masyarakat membeli media tersebut karena memerlukan informasi  tentang berbagai hal yang terjadi di dunia ini ;(2)Mendidik.Karena fungsi yang kedua ini ,media masa menyajikan pesan-pesan atau tulisa-tulisan yang mengandung ilmu pengetahuan, nserta sekaligus dapat di jadikan media pendidikan massa; (3) Menghibur.dalam memainkan fungsinya untuk menghibur, media massa menyajikan rubrik-rubrik atau program-program yang bersifat hiburan.[4]seperti acara OVJ.TUNGKUL misalnya, sehingga saat ini ketika kita coba membuka wajah baru tentang bagaimana jurnalistik menyediakan ladang tempat untuk mengimpormasikan atau mempublikasian suatu kejadian atau perkara tentunya sangat perlu memperbaiki  manajmen teoritiknya dalam menyampaikan informasi sehingga masyarakat atau publik tidak merasa terganggu atau tersinggung atas informasi tersebut,[5]Banyak bukti menunjukkan,komunikasi memang berperan penting dalam kehidupan manusia secara utuh .berhasil tidaknya seseorang membina hidup ,berkarir,berbisnis,bahkan berpolitik tidak pernah lepas dari kemampuan untuk berkommunikasi dengan baik.Orang-orang  besar, tidak akan menjadi tokoh terkenal, tanpa mereka mampu melakukan komunikasi dengan baik.[6]Secara ilmiah, di dalam nama itu terkandung ciri-ciri tertentu yang menjadi pengetahuan kita  untuk mengenalinya sehingga kita bisa membedakannya mulai dari nama atau istilah lain yang ada di sekeliling kita.Untuk itu kita memerlukan pendekatan dan pemikirannya melalui tiga segi:(Etimologi) atau lingkungan kegiatannya.
Dari segi etimologi dapat kita melihat istilah jurnalistik terdiri dari dua suku kata,jurnal dan istik kata jurnal berasal dari bahasa prancis, journal, yang berarti catatan harian.Adapun kata istik merujuk pada estetika yang berarti ilmu pengetahuan tentang keindahan.[7]Secaraharfiah (etimologis, asal usul kata), jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day) atau “catatan harian”(diary).[8] Dalam bahasa Belanda journalistiek artinya penyiaran catatan harian.Jurnalistik yang menyangkut kewartawanan dan persurat kabaran. (Kamus Besar Bahasa Indonesia). merupakan  kegiatan untuk menyiapkan mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya”. (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari yang terjadi di lingkup masyarakat atau di luar seputar dunia khususnya indonesia (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada. (Ensiklopedi Indonesia).

ü Jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting dan menyebarkan berita dan karangan utuk surat kabar, majalah, dan media massa lainnya seperti radio dan televisi. (Leksikon Komunikasi). Jurnalistik adalah proses kegiatan mengolah, menulis, dan menyebarluaskan berita dan atau opini melalui media massa. [9]
ü Jurnalistik adalah suatu kepandaian praktis mengumpulkan, mengedit berita untuki pemberitaan dalam surat kabar, majalah, atau terbitan terbitan berkala lainnya. Selain bersifat ketrampilan praktis, jurnalistik merupakan seni. (M. Ridwan).
ü Jurnalistik adalah teknik mengelola berita sejak dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada khalayak. Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja. (Onong U. Effendi).
ü Jurnalistik adalah semacam kepandaian karang-mengarang yang pokoknya memberi perkabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya. (Adinegoro).Jurnalistik adalah segala sesuatu yang menyangkut kewartawanan (Summanang).Jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran. (Roland E. Wolseley).Jurnalistik adalah kegiatan pencatatan dan atau pelaporan serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari. (Astrid S. Susanto). Jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan. (Erik Hodgins).
 Jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peritiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual dan factual dalam waktu yang secepat-cepatnya. (A.W. Widjaya).Definisi tentang jurnalistik cukup banyak. Namun dari definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan secara umum. Semua definisi juranlistik memasukan unsur media massa, penulisan berita, dan waktu yang tertentu (aktualitas). (A. Muis).
 Dari kesemua instrumen devinisi jurnalistik di atas semuanya memiliki kesamaan namun di sisi lain tentu ada perbedaan di antaranya adalah dalam pengaplikasianya,Dalam jurnalistik selalu harus ada unsur kesegaran waktu (timeliness atau aktualitas). Seorang jurnalis memiliki dua fungsi utama.
1)                  fungsi jurnalis adalah melaporkan berita.

2)                 membuat interpretasi dan memberikan pendapat yang didasarkan pada                 beritanya.
Namun perlu kita ketahui mungkin banyak di antara kita yang mengatakan bahwa semua perkabaran itu adalah produk jurnalistik,oleh karenanya penulis mencoba mengexplorasikan mana yang termasok produk jurnalistik dan tidak termasok dalam produk jurnalistik :produk jurnalistik adalah surat kabar,tabloid,majalah,dan bbuletin dapat di golongkan kedalam tiga kelompok besar:(1)berita (news),(2)opini (news),dan (3)iklan edvertising.[10]
                                                           
















A.                 Realitas Etika Jurnalistik Masa Kini

1)         Islam dan Persimpangan  Etika Jurnalistik

Kebijakan redaksional memicu timbulnya berbagai bentuk pemberitaan yang salah atau memicu adanya informasi yang salah .karena di akibatkan adanya kpentingan beberapa pihak,Aturan merupakan salah satu tali pembatas atau garis petunjuk untuk bertindak dalam memberikan keselarasan antara pelaku dan penerima atau sasaran dari prilaku atau kegiatan yang akan di lakukan baik itu termuat dalam aturan tertulis atau tidak tertulis seperti halnya dengan aturan pada UU perss atau jurnalis”      begitupun dalam Islam ketentuan-ketentuan prilaku yang menyangkut khalayak sudah banyak sekali di singgung baik yang di jelaskan dalam Al-qur’an maupun Al-hadist yang sampai hari ini di lepas begitu  saja oleh jurnalistik khususnya jurnalistik islam saat ini tetapi kita tidak heran jika banyak terjadi pelecehan-pelecehan islam di media masa saat ini karena generasi islam yang intens yang kekuatan skilnya tentang jurnalistik sampai hari ini kurang sehingga ruang gerak di penuhi oleh jurnalistik yang di luar islam sehingga otoritas pemberitaan di pegang penuh oleh mereka-mereka yang mampu,dan juga sembari di perkuat oleh UU perss oleh karena itu pertanyaan kita semua, Islam hari ini berada di mana.....?apakah akan di muat dalam Al-qur’an dan Al-hadist saja,tanpa ada pengaplikasian dalam kehidupan kita.
Oleh karenanya sebelum kita membahas lebih jauh tentang unsur-unsur yang membuat suatu berita layak untuk di muat,penulis ingin mengajak untuk menyimak isi pasal 5 Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia:
“wartawan indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil,mengutamakan kecermatan dan ketepatan ,serta tidak mencampurkan fakta dan ofini sendiri.tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar di sajikan dengan nama jelas penulisnya.’’[11]
Kemudian kalo di unggah apa yang di sebutkan oleh A.Muis mengatakan bahwa jurnalistik islam adalah menyebarkan atau menyampaikan informasi kepada pendengar,pemirsa,atau pembaca tentang perintah Allah dan larangan Allah SWT (Al-qur’an dan Al-hadist)[12]
a)      Islam mengajarkan kita untuk tidak membicarakan keburukan orang lain dan kelurga
b)      Islam melarang kita memperlihatkan keburukan orang lain
c)      Islam menyuruh kita untuk menutup rapat aib orang karena abila menceritakan kepada orang lain sama artinya kita mematahkan masa depannya
Lalu sampai hari ini apa yang kita lihat.Beragam expresi di perlihatkan publik dalam menyikapi setiap even atau pristiwa sosial dan politik di tanah air.[13]Lebih-lebih yang di perlihatkan oleh beberapa kalangan jurnalistik yang tentunya memberikan banyak dampak sosial negativ pada masyarakat atau hal layak,dan di dalam kehidupan kita bukankah hal yang menyagkut pribadi bahkan lebih kejam lagi adalah hal yang mengenai perso’alan ranjang dengan seorang suami istri harus di publikasi. kemudian ketentuan yang di atur oleh islam hari ini apa.....?.Lalu kalau seperti itu yang terjadi pada negara kita yang mayoritas islam tentunya akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan sekarang,definisi mana yang harus kita ikuti atau kita pakai tentang berita sebagai pegangan ? definisi menurut Pers Barat atau menurut Pers Timur?[14]Ini tentunya menjadi PR besar bagi kita khhususnya yang menimba ilmu di dibawah PTAI  apakah kita akan terus berkedaulatan barat ataukah kita akan kembali untuk merefleksikan bahwa kita harus mencoba berangkat dari falsafah kita yang sebenarnya yaitu yang di atur oleh Islam.
2)                      Keterbatasan Kontroling Jurnalistik

Organisasi yang berbentuk  Milik penyelenggara kini banyak di lakukan oleh surat kabar-surat kabar kecil ,dimana para penyelenggara yang memilikinya terdiri dari pimpinan umumnya.[15]yang tentunya tidak pernah lepas dari pengawasan namun apa yang kita lihat saat ini tentunya menarik perhatian masyarakat untuk ikut memperotes segala sesuatu yang di lihat janggal karena persimpangan  pengawasan dalam UU ketetapan perss dengan apa yang ada dalam islam sudah di tutup oleh pakar-pakar barat yang mengatur sedemikian rupa,munculnya teori-teori barat indonesia bahkan negara-negara islam lainnya terperangkap dalam dalam gulatan-gulatan sehingga sehingga teori atau paham-paham islam kini sudah terbungkus rapi seakan-akan sulit untuk membuka kembali sehingga semua kontradeksi baru terus di selsaikan berdasarkan teori-teori barat,paham-paham islam tidak di aplikasikan oleh para jurnalistik islam saat ini,menelusuri filosop media sesuatu yang menjadi cita-cita ideal,landasan pokok,atau pijakan dasar  yang senantiasa menjiwai seluruh kebijakan ,peraturan serta orientasi sikap dan prilaku suatu media dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.[16]bentuk dan model yang di gambarkan ketika kita mau menyelsaikan persoalan atau memberitahu suatu kejadian atau masalah kepada orang lain supaya tidak menimbulkan dampak negativ kepada sumber berita atau penerima berita,dengan dua bentuk kerangka besar  yang di percayai sebagai panduan atau batu pijakan yaitu:Al-qur’an dan Al-hadist dan di sertai dengan  UU perss no.14 thn.2008 sudah sangat jelas batasan media dan sudah berapa lama di publikasikan tetapi yang menjadi permasalahan masa kini adalah batasan-batasan itu di abaikan karena batasan-batasan yang termuat dalam islam bertentangan dengan UU perss yang lahir kemarin sore sehingga persimpangan-persimpangan informasi kerap terjadi yang seharusnya menurut islam itu tidak di perbolehkan utk di publikasikan tetap dipublikasikan padahal ketika kembali melihat dampak yang dimunculkan atas perso’alan itu sangat besar, di antaranya mematahkan semangat masyarakat, memotong kehidupan yang akan di gapai masa depan karena itu merupakan aib bagi diri dan keluarganya dan masyarakat banyak atau khalayak.amunsampai hari in kita lihat semua itu jauh memiliki peximpangan satu contoh misalnya:si A tersangka melanggar aturan perkawinan media heboh mempublikasikan persoalan it sehingga harkat dan martabat si A tercoreng padahal kebenaran akan berita itu belum sepenuhnya di dapatkan akan tetapi masyarakat khalayak memandang bahwa itu sudah pasti kebenarannya,saling serang lewat jejaring sosial,mengumbar-umbar kejelekan masing-masing lawan lewat televisi,saling menjelek-jelekan lewat radio,bukankah itu tindakan yang sangat merugikan bagi diri dan kluarganya si terduga atau tersangka tercorengnya  atau di jastipikasikan benar-benar bersalah atau melanggar aturan itu

3)                 Keberpihakan Media/Jurnalistik
Melihat penomena kepesatan media komunikasi dan informasi yang melanda dunia khususnya indonesia yang secara spontan di hadapkan dengan dunia baru yang belum memiliki persiapan yang handal atau kuat seperti negara-negara tetangga sehingga menimbulkan berbagai ancaman dan keterpurukan yang di akibatkan kekurangan pemahaman dalam meng-aplikasikan semua perkembangan teknologi atau peradaban baru, sehingga menggunakan ke arah negativitas pada negara sendiri atau kawasan sendiri, seperti yang di maksud di atas yang seharusnya harus mengacu pada kesesuaian atau tujuan sebenarnya kegiatan sebagai jurnalistik yang menjadi tujuan pokoknya adalah: Dalam rangka mempengaruhi khalayak dan tentunya di harafkan unsur keindahan sajian produknya sangat di utamakan.[17]
Sebuah representasi boleh jadi terjadi pula misrepresentasi,yaitu ketidak benaran penggambaran,kesalahan penggambaran.seseorang,suatu kelompok,suatu pendapat,sebuah gagasan tidak di tampilkan sebagaimana mestinya.[18]sudah menjadi hal biasa yang di perlihatkan oleh sebagian jurnalistik saat ini.Namun ketika kita coba melihat dengan kasat mata bahwa,sifat tak berdisiplin secara murni juga merupakan  suatu sifat yang justru dalam zaman setelah zaman revolusi tanpak makin memburuk dan yang merupakan pangkal dari pada banyak masalah yang kita hadapi.[19]Di Era Globalisasi saat ini dapat kita temukan bagaimana media berfihak kepada stacholder ( pemilik), kebebasan menyampaikan informasi-informasi yang akurat, fakta menjadi terbatas oleh latarbelakang tersebut. Para wartawan atau jurnalis masa kini bisa penulis katakan memihak, bagaimana tidak   banyak ketimpanagan ketimpangan terjadi misalnya, di dalam perpolitikan indonesia yang belum kelar  hilang ditelan bumi akibat dari pemberitaan media yang setengah-setengah, misalnya kasus bank century yang sampai saat ini masih belum ditemukan ujung pangkalnya, yang kedua muncul kepermukaan masalah jebolnya tanggul siduarjo (lapindo)  yang jelas-jelas salah satu media  enggan untuk memberitakannya, ini menjadi PR besar kepada semua khususnya para pencari berita (wartawan)  mencari arti penting kebebasan yang mana yang mesti diperjuangkan dan yang mana yang mesti di tutupi,oleh karena itu  dimana pada saat ini setiap berita yang sampai kepada lembaga pemberitaan penuh dengan saringan-saringan yang menguntungkan pihak pemilik media tersebut.[20] 
Media massa dalam era global ini dimiliki oleh siapa saja yang bermodal sehingga otoritas pemberitaan  tergantung warna bendera sang pemilik, guna mendapat untung yang sebesar-besarnya atas kepentingan itu, disaat ini dibutuhkan media massa yang betul-betul independen tidak memihak kiri dan kanan, perss mahasiswa dibutuhkan sesungguhnya untuk mengkaderisasi wartawan-wartawan yang profesional di bidangnya sendiri.Mahasiswa bisa di kategorikan sebagai kelas sosial terdidik dalam prnyataan Hefner.selain itu ada beberapa alasan mengapa mahasiswa  dan aktivitasnya  termasok jurnalisme kampus  berpotensi memainkan peran strategis ini.jika mahasiswa mampu mengelola  jurnalisme dengan baik dan menjaga modal indevendensinya itu maka mreka kan lebih kebal dengan penetrasi konservatisme karena struktur  yang menuntunnya adalah idealisme,bukan struktur dan pola produksi brita dalam industri dalam media masa.
Kehidupan masyarakat telah bergeser menuju paradigma baru,yakni masyarakat global,Globalisasi telah menguburkan batas-batas wilayah dan negara,sehingga setiap orang berpacu dan berkopetesi dalam menyikapi berbagai perubahan yang sangat cepat dan beragam.Persaingan masyarakat global kini sudah masok di semua aspek kehidupan masyarakat.[21]sehingga sangat di harafkan kita sebagai insan akademisi memberikan kontribusi sederhana untuk terus mengamati perkembangan perkembangan sosial dan politik di tingkat lokal bahkan nasional,[22] yang kiranya dapat memicu terjadi persimpangan-persimpangan fungsi sebenarnya sebagai sosial kontrol atas perkembangan dan kejadian dari semua aspek.ke bebasan berpendapat telah menimbulkan berbagai konplik baik antar personal maupun antar ormas dan kelompok lainnya di akibatkan penyediaan lahan untuk saling hujat oleh beberapa media misalnya: diskusi lewat seluler,kebebasan berpendapat hari ini sudah di maknakan lain oleh sebagian banyak masyarakat indonesia bahkan dunia oleh karenanya,disinilah se-kali lagi perlunya introspeksi nasional.[23]






Penutup
Demikianlah sudah dipaparkan kerangka pemikiran yang mendasari Islam dan etika jurnalistik di Indonesia. Kalau disimak, mulai dari pembukaan sampai pasal-pasalnya,tujuan pokok yang terkandung dalam Islam dan etika jurnalistik adalah memelihara eksistensi institusi jurnalistik di Indonesia agar dapat hadir dengan kemerdekaan dan harkat martabat islam. Untuk itu dimulai dengan perilaku personelnya sejauh mana ia dapat menjalankan kegiatan teknisnya, sehingga sebagai pribadi yang berhadapan dengan masyarakat (sumber berita),ia dapat memiliki harkat dan martabat. Dan lebih lanjut, hasil kegiatannya berupa informasi yang disiarkan institusinya, dapat membangun harkat institusi tempatnya bekerja. Harkat dan martabat hanya dapat dibangun melalui perilaku, bukan dengan materi (peralatan, pakaian seragam, dan sebagainya).Sebagai pedoman perilaku, sanksi bagi pelanggaran kode etik, yang primer berasal dari hati nurani si wartawan sendiri, kedua adalah dari institusi dimana ia bekerja, dan ketiga dari organisasi profesi (PWI) kalau ia menjadi anggota. Terlepas apakah ada sanksi dari institusi atau organisasi profesi, sanksi dari hati nurani jauh lebih "menggigit" jika seseorang memiliki harkat.Oleh karenanya tujuan pokok tulisan ini adalah memberikan refleksi serta rekomendasi terhadap kinerja jurnalistik indonesia khususnya yang di harafkan untuk memperbaiki majanmennya supaya harkat dan martabat institusinya tetap terjaga.




















DAFTAR PUSTAKA

Pengamatan orizinil atas berita-berita terkini di berbagai media elektronik auditif,elektronik audio visual dan lain sebagainya.
Rosady Ruslan,Etika Kehumasan:konsepsi dan aplikasi. Jakarta:PT rajagrapindo persada,2001
Werner J.Severin-James W.Tankard,teori komunikasi.Jakarta:Ramangun,Kencana Prenada Group,2007
Burhanuddin Abdullah, M.Ag,pendidikan islam:sebagai sebuah disiplin ilmu.yogyakarta:pustaka prisma,2010
Ashadi Siregar, DKK, ed., Bagaimana Menjadi Penulis Media Massa, Paket I Pengantar
Umum, PT Karya Unipress, Jakarta, 1982

Ashadi Siregar, Etika Komunikasi, Seksi Penerbitan Badan Penelitian dan Pengembangan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1983

Franz von Magnis, Etika Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1979.
Marbangun Hardjowirogo, Kebebasan Penerangan, Landasan Operasi Media Massa,
Penerbit Djambatan, Jakarta, 1984.

Persatuan Wartawan Indonesia, Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia.
Siebert, Peterson, Schramm, Four Theories of the Press, University of Illinois Press,Urbana, 1956.
Mohammad Abdul Nasir, MA. Dosen Fakultas Syariah IAIN Mataram, Makalah Disampaikan Dalam Seminar “Konservatif Agama Di Media Massa” Yang Diselenggarakan LPM. Ro’ Yuna. PPMI  Mataram Dan Sejuk Jakarta, Jum’at Di Auditorium IAIN Mataram

Lalu Ahmad Zaenuri,Dakwah dan Tantangan Global,(Tasamuh:Volume 7.Nomor 2.Juni 2010)

Burhanuddin Abdullah,Pendidikan Islam:Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu.(Yogyakarta:Pustaka Prisma ,2010)

Rosady Ruslan,Etika Kehumasan:Konsepsi dan Aplikasi. (Jakarta:PT Rajagrapindo Persada,2001)

Asep Saeful Muhtadi,Jurnalistik Pendekatan Teori dan Praktik,(Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999)

Kadri,Komunikasi Sosial Politik,Aksi,Refleksi, Dan Rekomendasi Untuk Ntb,(Mataram:Larispa,2011)

Elliys Lestari Pambayun,Communication Quotient,Kecerdasan Komunikasi dalam Pendekatan Emosional dan Spiritual,( Bandung:Pt Remaja Rosdakarya Offset,2012 )

Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia )

Werner J.Severin-James W.Tankard,teori komunikasi. (JAKARTA:Ramangun,Kencana Prenada Group,2007)

Asep Syamsul M. Romli,Jurnalistik Dakwah,(Bandung: Rosda. 2003.).
                                        
As Haris Sumadiria,Jurnalistik Indonesia,Menulis Berita dan Feature,(Bandung:Jl.Srikania Raya No.13,2005)

Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia)

Fahrurrozi ,Al-Qur’an Dan Praktek Jurnalisme,Analisis Jurnalistik Kontemporer,(Tasamuh:volume 7.nomor 2.juni 2010)

Kadri,Komunikasi Sosial Politik,Aksi,Refleksi, Dan Rekomendasi Untuk Ntb,(Mataram:Larispa,2011)

Himat Kusumanigrat-Purnama Kusumanigrat,Jurnalistik Teori Dan Praktik,(Bandung :PT.Remaja Rosdakarya2005-2006)

Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia)

As Haris Sumadiria,Bahasa Jurnalistik,Panduan Praktis dan Jurnalis,(Bandung:Simbiosa Rekatama Media)

Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia )

Aris Badara,Analisis Wacana Teori,Metode,dan Penerapan Pada Wacana Media,(Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2012)

Koentjaraningrat,Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan,(Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama.2004)

Mohammad Abdul Nasir, Dosen Fakultas Syariah IAIN Mataram, Makalah Disampaikan Dalam Seminar “Konservatif Agama Di Media Massa” Yang Diselenggarakan LPM. Ro’ Yuna. PPMI  Mataram Dan Sejuk Jakarta, Jum’at Di Auditorium IAIN Mataram.2011

T.May Rudi,Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional,(Bandung:PT.Refika Aditama,2005 )

Kadri,Komunikasi Sosial Politik,Aksi,Refleksi, Dan Rekomendasi Untuk Ntb,(Mataram:Larispa,2011)

Dedy Djamaluddin Malik,Novel Ali,Peradaban Komunikasi Politik,Potret manusia Indonesia,(Bandung:PT.Rosdakarya Bandung )





[1] Lalu Ahmad Zaenuri,Dakwah dan Tantangan Global,(Tasamuh:Volume 7.Nomor 2.Juni 2010),.h.100
[2] Burhanuddin Abdullah,Pendidikan Islam:Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu.(Yogyakarta:Pustaka Prisma ,2010).,h.6
[3] Rosady Ruslan,Etika Kehumasan:Konsepsi dan Aplikasi. (Jakarta:PT Rajagrapindo Persada,2001).,h.29

[4] Asep Saeful Muhtadi,Jurnalistik Pendekatan Teori dan Praktik,(Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999),.h.84
[5] Kadri,Komunikasi Sosial Politik,Aksi,Refleksi, Dan Rekomendasi Untuk Ntb,(Mataram:Larispa,2011).,h.41
[6] Elliys Lestari Pambayun,Communication Quotient,Kecerdasan Komunikasi dalam Pendekatan Emosional dan Spiritual,( Bandung:Pt Remaja Rosdakarya Offset,2012 )
[7] Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia ).,h.13
[8] Werner J.Severin-James W.Tankard,teori komunikasi. (JAKARTA:Ramangun,Kencana Prenada Group,2007),.h.36
[9] Asep Syamsul M. Romli,Jurnalistik Dakwah,(Bandung: Rosda. 2003.).
                                        
[10] As Haris Sumadiria,Jurnalistik Indonesia,Menulis Berita dan Feature,(Bandung:Jl.Srikania Raya No.13,2005),h.6.
[11] Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia).,h.47
[12] Fahrurrozi ,Al-Qur’an Dan Praktek Jurnalisme,Analisis Jurnalistik Kontemporer,(Tasamuh:volume 7.nomor 2.juni 2010).,h.101
[13] Kadri,Komunikasi Sosial Politik,Aksi,Refleksi, Dan Rekomendasi Untuk Ntb,(Mataram:Larispa,2011).,h.V
[14] Himat Kusumanigrat-Purnama Kusumanigrat,Jurnalistik Teori Dan Praktik,(Bandung :PT.Remaja Rosdakarya2005-2006),h.33
[15] Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia).,h.83
[16] As Haris Sumadiria,Bahasa Jurnalistik,Panduan Praktis dan Jurnalis,(Bandung:Simbiosa Rekatama Media),h.21
[17] Kustadi Suhandang,Pengantar Jurnalistik-Seputar Organnisai,Produk,& Kode Etik,( Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia ).,h.115
[18] Aris Badara,Analisis Wacana Teori,Metode,dan Penerapan Pada Wacana Media,(Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2012)
[19] Koentjaraningrat,Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan,(Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama.2004)
[20] Mohammad Abdul Nasir, Dosen Fakultas Syariah IAIN Mataram, Makalah Disampaikan Dalam Seminar “Konservatif Agama Di Media Massa” Yang Diselenggarakan LPM. Ro’ Yuna. PPMI  Mataram Dan Sejuk Jakarta, Jum’at Di Auditorium IAIN Mataram.2011
[21] T.May Rudi,Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional,(Bandung:PT.Refika Aditama,2005 )
[22]Kadri,Komunikasi Sosial Politik,Aksi,Refleksi, Dan Rekomendasi Untuk Ntb,(Mataram:Larispa,2011).,h.Vii

[23] Dedy Djamaluddin Malik,Novel Ali,Peradaban Komunikasi Politik,Potret manusia Indonesia,(Bandung:PT.Rosdakarya Bandung ),h.79

Reaksi:

0 komentar: