This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, 16 April 2017

BANGKITNYA DUNIA SIMULAKRA DAN MATINYA KEHIDUPAN SOSIAL



Oleh: Ishak Hariyanto

“Aku Mengkonsumsi Maka Aku Ada”

Berangkat dari beragam perspektif untuk membaca kehidupan masyarakat di era postmodern saat ini tidaklah gampang, karena dari berbagai macam perspektif untuk membaca apa yang menjadi kecendrungan masyarakat di era postmodern saat ini terus berganti seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman. Beberapa pendekatan yang pernah digunakan oleh beberapa filsuf dan para sosiolog untuk mengkaji apa yang menjadi kecendrungan manusia human interest saat ini masih belum mampu menemukan titik terang; sebut saja diantara pendekatan tersebut adalah, psikologi, sosiologi, antropologi, linguistik dan sebagainya. Beberapa pendekatan tersebut digunakan guna mempermudah dan memperkuat konsep yang telah dibangun oleh beberapa ilmuan dalam mendeskripsikan suatu permasalahan kemanusiaan. Meskipun demikian, beberapa pendekatan tersebut masih belum juga memberikan nafas segar bagi kemanusiaan di era postmodern saat ini.
Istilah postmodern yang dijabarkan dalam artikel pendek ini sebenarnya mengacu pada kegiatan pencarian  makna filosofis sebagai lawan dari kata “modern”. Kata post-modern ini sebenarnya berawal dari kajian kesenian dan juga kajian terhadap bangunan-bangunan yang menjulang tinggi dan memukau mata, akan tetapi istilah postmodern saat ini digunakan oleh beberapa filosof untuk melawan tradisi modern yang masih belum mampu menyelesaikan permasalahan kemanusiaan kontemporer. Mengapa demikian karena selama ini suatu kajian keilmuan hanya bekerja dalam tataran luar (surface structure) bukan pada struktur terdalam (deep structure), oleh karenanya berdampak pada kemanusiaan karena beberapa ilmu humaniora atau social sciences saat ini masih belum mampu menyelesaikan permaslahahan kemanusiaan. Permasalahan kemanusian kian hari kian mengkristal seiring perkembaangan zaman, namun masih juga berjalan apa adanya.
Dari beberapa transformasi yang terjadi, sebut saja transformasi budaya, agama, ekonomi, dan juga politik. Namun yang masih melekat dalam kehidupan manusia postmodrn adalah  transformasi informasi-tekhnologi yang super canggih. Transformasi informasi, tekhnologi yang super canggih telah menusuk dan hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat , sebut saja kehadiran radio, televisi, internet dan informasi yang serba instan berdampak pada sikap, mental, life style masyarakat. Tidak heran jika kehadiran tekhnologi informasi yang supercanggih ditengah-tengah kehidupan masyarakat merubah desa-desa, perkampungan dan tidak terkecuali perkotaan  menjadi “global village”. Kehadiran informasi yang serba instan hanya dengan hitunggan menit dan bahkan detik cukup hanya di “click” maka semua orang mampu melihat dunia yang dulu asing menjadi tak asing lagi. Dunia hiburan, life style, lagu dangdut, jaz, pop, dan rock berkembang dimana-mana dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Akibat dari berkembangnya sumber-sumber informasi yang canggih berdampak pada gaya hidup masyarakat yang semula belum siap menjadi harus siap menghadapinya, sehingga tidak heran jika masyarakat menjadi ekstasi dan mulai hidup dalam dunia khayal yang kaya akan imajinasi tinggi dan pada akhirnya masyarakat telah menjadi korban  tekhnologi informasi tanpa ada filterisasi diri.
Meskipun demikian, masyarakat lebih senang dan tenggelam dalam dunia yang penuh khayal dan jauh dari realitas kehidupan. Apabila terjadi demikian maka saatnya manusia masuk menjadi penonton dan penikmat gaya hidup yang serba menakjubkan dan tak heran jika masyarakat menjadi “ekstasi” media. Ekstasi terhadap media tersebut berdampak pada pola pikir masyarakat yang semula hanya penonton media akan tetapi saat ini menjadi masyarakat konsumeris. Masyarakat konsumeris berdampak pada gaya hidup, pola pikir, sikap, mental dan bahkan eksistensi manusia diukur lewat tingkat konsumsinya. Apabila demikian maka saatnya dunia khayal (simulakra) dan matinya dunia sosial mulai menjalar dalam kehidupan manusia.
Berangkat dari itu semua, dalam tulisan ini saya tertarik untuk mengkaji seorang ilmuan Postmodern Prancis Jean Baudrillard yang konsen berbicara tentang kecendrungan manusia postmodern. Jean Baudrillard lahir pada tahun 1928 dan meninggal pada tahun 2007. Jean Baudrillard selanjutnya ditulis Baudrillard pada dasarnya ia adalah seorang Marxian dan sangat dipengaruhi oleh perspektif Marxian yang menitikberatkan pada persoalan ekonomi. Karena Karl Marx dan sebagian besar Marxis tradisional; lebih memfokuskan pada dunia “produksi. Namun dunia produksi ala Marx tersebut bagi Baudrillard sudah tidak relevan lagi karena manusia postmo saat ini sudah tidak berbicara tentang dunia/sistem produksi lagi, akan tetapi saat ini manusia postmo berbicara dalam dunia konsumsi.  Mengapa demikian; karena bagi Baudrillard di bawah era kapitalis orientasi manusia hanya pada mode of production dan pada saat ini masyarakat tidak lagi demikian akan tetapi lebih pada mode of consumption. Dari kedua mode  tersebut namun mode kedua sangat berdampak bagi kehidupan manusia postmo karena dari mode kedua tersebut manusia dipandang tidak lebih hanya sebagai objek semata. Oleh karenanya  melalui objek-objek tersebut, seseorang dalam masyarakat konsumer menemukan makna dan eksistensi dirinya. Fungsi-fungsi objek konsumer bukan pada nilai guna atau manfaat suatu barang atau benda, melainkan tanda atau simbol yang disebarluaskan melalui iklan-iklan gaya hidup masyarakat media.
Dari itu semua maka masyarakat saatnya memanipulasi simbol, dan dari simbol tersebut masyarakat dikalahkan dan tidak lagi melihat realitanya atau dengan bahasa lain “Isi pesan dikalahkan oleh pengemas pesan. Apabila dalam suatu masyarakat sudah terjangkit dengan simbol maka simulakra  mulai menusuk kehidupan masyarakat. Dalam pengertian Baudrillard simulakra ini adalah suatu konstruksi pikiran imajiner terhadap sebuah realitas, tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara esensial, dengan kata lain simulakra adalah instrumen yang mampu merubah hal-hal yang bersifat abstrak menjadi konkret dan konkret menjadi abstrak. Hadirnya simulakra dalam kehidupan masyarakat tersebut bukan tidak memiliki tujuan, namun simulakra sendiri memiliki tujuan, diantara tujuan-tujuan simulakra tersebut adalah; untuk mengontrol manusia dengan cara menjebak mereka untuk percaya bahwa simulasi itu nyata, dan juga untuk membuat manusia tergantung kepada simulasi dan tidak bisa hidup tanpanya. Misalnya Ponsel, Facebook, TV, Internet dan sebagainya. Dan  apabila manusia sudah mulai tergantung kepada simulakra tersebut maka manusia sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang realita dan yang bukan realita, karena simulakra selalu bersifat melampui kenyataan dan selalu membawa kebohongan. Misalnya; Iklan parfum AX yang apabila seorang lelaki memakainya maka perempuan seisi kota bakal mengikutinya. Iklan minuman ringan yang dapat membuat seseorang melayang-layang. Dan juga Iklan multivitamin yang dapat membuat anak cerdas seketika.
Dari beberapa kebohongan yang selalu melampaui kenyataan yang dibawa oleh simulakra tersebut manusia tidak sadar akan keberadaannya karena manusia sudah terlanjur menikmatinya. Keterlanjuran tersebut tentu tidak terlepas dari media-media informasi yang selalu menyuguhkan beranekaragam informasi, iklan dan gaya hidup. Meskipun demikian, masyarakat  terus masuk dalam dunia simulakra dan akhirnya lebih cendrung mengkonsumsi simbol, karena orientasi masyarakat saat ini adalah dunia simbol, dan semakin banyak mengkonsumsi simbol maka semakin banyak pula social capital yang dimiliki. Semakin banyak social capital yang dimiliki maka semakin banyak itu pula simbol-simbol yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Dari simbol-simbol yang hadir tersebut maka akan tercipta suatu distingsi di tengah-tengah masyarakat, karena masyarakat akan bertarung untuk mengumpulkan sebanyak mungkin simbol dalam kehidupannya dan lebih terpaku pada konsumsi simbol ketimbang kegunaan. Sebagai contoh; seseorang akan lebih memilih produk “bermerek” ketimbang produk sejenis lain yang berdaya guna sama dan berharga lebih murah.
Pertarungan simbol-pun terus terjadi apabila seseorang terus mengkonsumsi barang-barang mewah dalam hidupnya sehingga orientasi masyarakat hanya mengkonsumsi atau menjadi masyarakat konsumeris. Masyarakat Konsumeris bagi Baudrillard  cendrung menyamakan realitas dengan tanda-tanda’  dan eksistensi manusia di lihat dari sifat konsumsinya dan akhirnya memunculkan istilah “aku mengkonsumsi maka aku ada”. Sifat konsumsi masyarakat semakin tinggi  maka semakin tinggi pula keinginan sehingga masyarakat sudah tidak lagi berbicara dalam ranah kebutuhan necessary, akan tetapi  berubah menjadi gaya hidup life style. Dari tingkat konsumsi masyarakat yang semakin tinggi berdampak pada bangkitnya “drugstore”. Drugstore yang dimaksud pada dasarnya adalah “toko obat” atau merupakan istilah yang menunjuk pada minimarket yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari dan umumnya beroperasi 24 jam penuh/hari. Minimarket-drugstore berupaya menghindari spesialisasi barang dagangan. Meskipun dengan tempat yang terbatas, berupaya memanfaatkan setiap celah ruang yang ada sehingga beragam barang dagangan dapat terpampang di dalamnya. Dan dari  itu semua mampu menggenjot konsumerisme masyarakat, terlebih dengan kehadirannya 24 jam/hari di sekitar kita.
Dari drugstore yang semakin meningkat di atas diakibatkan karena dunia konsumsi masyarakat semakin tinggi, dan budaya persaingan untuk mengumpulkan simbol-simbol dan barang-barang mewah berdampak juga pada mode untuk membedakan diri dengan yang lain atau dengan bahasa lain “distingsi” atau suatu jarak sosial yang diakibatkan oleh pilihan selera. Misalnya; konstruksi suatu kelompok atas musik dangdut sebagai low culture ‘budaya rendahan’ secara langsung bakal berimplikasi pada penilaian kelompok tersebut terhadap mereka yang menggemari musik dangdut sebagai orang “kampungan”. Dari hal tersebut maka tingkat konsumsi dapat menentukan tingkat status sosial, karena dalam sistem kapitalis hubungan manusia telah ditransformasikan dalam hubungan objek yang dikontrol oleh kode atau tanda tertentu. Perbedaan status dimaknai sebagai perbedaan konsumsi tanda, sehingga kekayaan diukur dari banyaknya tanda yang dikonsumsi. Mengkonsumsi objek tertentu menandakan kita berbeda atau dianggap sama dengan kelompok sosial tertentu. Dan tidak hanya itu akibat dari tingkat konsumsi tinggi tersebut, masyarakat postmodern kehilangan public sphere karena mereka ekstasi dengan dunia tanda yang terdapat dalam dunia informasi dan komunikasi  yang amat kacau, dari kehidupan dan ekstasi komunikasi yang kacau, seiring dengan lenyapnya ruang public tersebut, maka ruang publik tak lagi menjadi tontonan dan ruang privat tak lagi menjadi rahasia. Perbedaan antara bagian dalam dan bagian luar terhapus seiring dengan rancunya batas antara ruang publik dan ruang privat. Kehidupan yang paling intimpun, pada saat ini telah menjadi penopang hidup virtual media.
Kekacauan media yang membuat dunia privat tidak lagi menjadi suatu rahasia malah telah menjadi tontonan media-media sosial, sebut saja facebook yang dimana orang bisa membuat status kesehariannya, memposting foto-foto mereka setiap menit dan  detik sehingga manusia saat ini berhubungan cukup hanya dengan dunia maya tanpa harus bertemu sehingga memunculkan banyak istilah-istilah yang unik di media masa seperti “kalau ada yang nyari aku  bilangin suruh aja cari di google”. Intensitas bertemu saat ini sudah tidak lagi dilihat secara face to face atau bertemu secara langsung, akan tetapi intensitas bertemu diukur lewat sejauhmana menggunakan media sosial sehingga harus memunculkan istilah di atas. Penggunaan media sosial yang belebihan sehingga berdampak pada bangkitnya dunia simulakra dan berakhirnya kehidupan sosial, karena  manusia lebih senang hidup dalam dunia maya dan menyendiri dan pada akhirnya mereka terjebak dalam simulakra dan tentu dapat dipastikan telah berakhir kehidupan sosialnya. Sebagai contoh; seseorang lebih memilih bermain video games di rumah ketimbang bermain di luar bersama teman-temannya, para ibu rumah tangga yang lebih memilih menonton sinetron ketimbang melakukan aktivitas sosial di luar, begitu pula para pecandu internet atau bacaan (komik) yang lebih memilih menghabiskan banyak waktunya guna melakoni kegemarannya tersebut ketimbang berinteraksi dengan sesamanya. Apabila masyarakat terlalu ekstasi dengan media-media dalam hidupnya maka hal tersebut mengindikasikan matinya dunia sosial social life, karena manusia sudah tidak mampu lagi berhubungan secara nyata, akan tetapi lebih cendrung berhubungan di dunia maya. Dan saat ini juga masyarakat hidup ditengah-tengah informasi yang amat membludak akan tetapi miskin akan makna, karena masyarakat selalu menggunakan topeng yang begitu tebal.

Sunday, 2 April 2017

KALA AKU BERSENGGAMA DENGAN SIMBOL RAMADHAN




Oleh: Ishak Hariyanto


Kedatangan bulan ramadhan tidak lama lagi, dan kedatangan bulan nan suci ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi umat muslim dunia. Datangnya bulan ramadhan bagi pengamatan penulis berbeda. Perbedaan ini tentu tergantung dari sudutpandangyangdigunakan. Bulan ramadhan memang selalu dinanti-nantikan oleh semua umat Islam dan menyambutnya merupakan hal yang sangat indah. Penyambutan bulan ramadhan di berbagai tempat memiliki keunikan tersendiri dan bahkan penyambutannya dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan dan kebiasaan suatu masyarakat, dan inilah yang disebut dengan relativisme budaya. Meskipun demikian, bulan ramadhan yang dinanti-nantikan telah tiba, namun dalam menjalankannyakita masihsebatasfun kata sebagianorang sebagai candaan.Namun candaan tersebut tidak bisa dipungkiri, karena keberadaannya sangat nyata, taruhlah seperti;kita mengaji, berdoa,dan bahkan shalat tarawih tak lupa menjepretnya dengan lensa camera, seolah-olah hanya sebatas fun semata. Akhirnya masyarakat sibuk menyambut bulan ramadhan hanya sebatas simbol semata, alih-allih ramadhan dipandang sebagai bulan penebus dosa,bulan tiket masuk syurga,dan kita sibuk berlomba-lomba untuk mencari tiket penebusandosa tersebut.Berpuasa, kita masih belum beranjak dari orientasi simbol dan kita terus bersenggama dengannya. Namun, kapan kita akan berorientasi pada meaning ramadhan yang berarti selalu menahan diri dari segala yang dapat merusak puasa.kedatangan.

Wednesday, 21 September 2016

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK GENERASI MUDA BANGSA INDONESIA


Afifurrahman
(Awardee LPDP PK-31, University of Aberdeen)

Topik tentang Indonesia Emas 2045 telah lama diperbincangkan oleh berbagai kalangan di dalam berbagai kesempatan. Konon pada tahun 2045, Indonesia diproyeksikan akan memiliki penduduk usia produktif yang proporsinya lebih besar bila dibandingkan dengan usia non-produktif. Rata-rata usia produktif tersebut berkisar antara 25 sampai 45 tahun, yang jika dihitung mulai saat ini mereka adalah para generasi muda yang terdiri dari balita, anak-anak, dan remaja.  Dengan jumlah usia produktif yang sedemikian besar, tentunya diharapkan pembangunan di tanah air di berbagai sektor kehidupan bisa meningkat secara signifikan bahkan melampui target yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha keras secara kolektif dari seluruh anggota masyarakat untuk mempersiapkan mental calon-calon penerus perjuangan bangsa.
Namun, upaya untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak semudah seperti yang dibayangkan. Arus globalisasi yang begitu kuat ditambah pesatnya kemajuan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi yang disalahgunakan berbagai pihak telah menyebabkan dekadensi moral anak cucu Indonesia. Beberapa karakter yang berakar pada budaya nasional, seperti: religius, jujur, toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat, cinta damai, dan peduli sosial  (Manullang, 2013)[1] perlahan mulai memudar tergantikan oleh budaya yang berasal dari bangsa luar, seperti: individualisme dan hedonisme.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kemdikbud, n.d.)[2] individualisme dapat diartikan sebagai paham yang menganggap diri sendiri lebih penting daripada orang lain. Sedangkan hedonisme merupakan suatu pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Keduanya telah memicu lahirnya karakter-karakter negatif dikalangan generasi muda, antara lain: kurangnya rasa kepedulian sosial, sikap acuh tak acuh terhadap norma dan ajaran agama yang berlaku, serta perilaku anarki yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Akibatnya, fenomena-fenomena sosial seperti pergaulan bebas, tindakan kekerasan seksual, penyalahgunaan narkoba, tawuran antar remaja terus bermunculan menghiasi kolom-kolom media massa.
Maraknya kasus kekerasan seksual di kalangan anak-anak muda Indonesia dalam pemberitaan media beberapa tahun terakhir menjadi salah satu indikator yang menunjukkan bahwa para calon pemimpin masa depan telah dan sedang dilanda penyakit individualisme dan hedonisme. Fakta tersebut diperparah dengan kondisi pelaku maupun korban yang masih di bawah umur, sehingga menurut berbagai kalangan, Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat kekerasan seksual. Dikutip dari laman website BBC[3] Indonesia tertanggal 16 Mei 2016, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat sekitar 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015 yang didominasi oleh kekerasan seksual. Angka tersebut meningkat 9% dari tahun sebelumnya. Selain itu, trend data Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang tertera pada laman website Wikipedia[4] mulai tahun 2010 sampai 2014 menunjukkan kasus kekerasan seksual terhadap anak kian meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat dalam kurun waktu 2010-2014 ada 21.869.797 kasus pelanggaran hak anak dimana 42%-58% adalah kejahatan seksual.
Mengingat begitu peliknya permasalahan sosial yang muncul di tengah-tengah masyarakat sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, maka peran pendidikan karakter menjadi sangat krusial. Pendidikan karakter diyakini dapat menjadi solusi yang tepat untuk memperbaiki keadaan masyarakat (Lickona, 2004)[5], terutama moral anak bangsa. Perbaikan terhadap moral anak bangsa menjadi langkah awal untuk meminimalisir timbulnya krisis-krisis kepribadian dan sosial, yang pada akhirnya akan berimplikasi pada terwujudnya Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, pembangunan karakter (character building) haruslah menjadi prioritas dalam dunia pendidikan sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional[6] No.20 Tahun 2003 yang mengamanatkan agar pendidikan lebih diarahkan untuk mencetak generasi muda yang berkarakter mulia.

Terdapat tiga fungsi utama dari pendidikan karakter (Zubaedi, 2011)[7], yaitu:
1.      Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila.
2.      Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggungjawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.
3.      Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.
Ketiga fungsi utama pendidikan karakter tersebut memiliki keterkaitan satu dengan yang lain dimana fungsi ke-2 menempati posisi yang paling sentral. Berbicara tentang pendidikan karakter tidak pernah terlepas dari peran serta seluruh elemen masyarakat, mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga, institusi pendidikan, lembaga sosial kemasyarakatan, pemerintah, dan masyarakat itu sendiri. Rasa kebersamaan untuk peduli terhadap pembangunan karakter anak bangsa menjadi kunci keberhasilan dalam membentuk dan mengembangkan potensi yang baik dalam diri peserta didik (fungsi ke-1). Ketika seorang anak telah berpikir dengan baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan tuntunan Pancasila, maka dia akan mampu menahan berbagai serangan budaya asing yang bertentangan dengan budaya bangsanya (fungsi ke-3).
Salah satu metode yang dapat dipraktikkan dalam pendidikan karakter ialah keteladanan (Saleh, 2012)[8]. Keteladanan dalam mencontohkan karakter-karakter yang baik di hadapan generasi muda sangat sesuai diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Sebagai contoh, dalam lingkungan keluarga, orang tua dapat memberikan contoh kepada buah hatinya bagaimana mengucapkan salam ketika hendak berpergian ke luar rumah, sikap yang harus ditunjukkan ketika tamu berkunjung, dan bertutur kata yang baik ketika berinteraksi dengan tetangga. Dalam lingkungan sekolah misalnya, para guru dapat memberikan contoh kepada peserta didik bagaimana berdo’a ketika hendak membuka pelajaran, etika-etika yang harus ditunjukkan ketika berdiskusi dalam proses pembelajaran, seperti: mendengarkan dengan baik pendapat teman serta bagaimana merespon balik pendapat tersebut, dan lain sebagainya.
Sebagai kesimpulan, Indonesia Emas 2045 merupakan momen yang paling dinanti-nanti oleh seluruh rakyat Indonesia dan generasi muda menjadi aktor kunci untuk merealisasikannya. Oleh karena itu, mempersiapkan mereka sebagai calon pemimpin bangsa melalui pendidikan karakter adalah salah satu langkah yang tepat untuk dilakukan bersama-sama.



[1] Manullang, B. (2013). Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi 2045. Jurnal Pendidikan Karakter, III(1), 1–14.
[2] Kemdikbud, P. B. (n.d.). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Online. Retrieved from http://kbbi.web.id/
[5] Lickona, T. (2004). Character Matters (Persoalan Karakter): bagaimana membantu anak mengembangkan penilaian yang baik, integritas, dan kebajikan penting lainnya; Penerjemah, Juma Abdu Wamaungo & Jean Antunes Rudolf Zien. (U. Wahyudin & D. Budimansyah, Eds.). Jakarta: PT Bumi Aksara.
[7] Zubaedi, Z. (2011). Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan (Edisi ke-1). Jakarta: Kencana.
[8] Saleh, A. M. (2012). Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa. (A. P. Kusharsanto, Ed.). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Saturday, 2 July 2016

Saya adalah saya tanpa saya



Agus: Kita (manusia) terdiri dari tiga unsur... 1. Unsur Materi, 2. Unsur biologi ( kehidupan) 3. Unsur kesadaran.. Jika direduksi kita terdiri dari (atom) yg kita sebut materi yg sama dengan materi2 yang lain di bumi.. Anda dimutilasi, di kilo akan sm dengan daging2 yg lain, tp daging itu bukanlah anda.. Jika dikumpulkan materi2 didunia ini seluruhnya tidak akan pernah melahirkan unsur biologi (untuk menghidupkannya).. Lebih gampangnya "Materi" kita sebut A, kehidupan (biologis) kita sebut B, jika ada unsur A+B anda temukan maka itu adalah binatang dan tumbuhan... Yang membedakan kita dengan AB-AB yang ada di muka bumi ini adalah C yaitu kesadaran.. Nah manusia itu punya ke tiga2nya ABC.. Jika kita tanya saya ini siapa..? Saya bukan tangan saya, bukan kaki saya, saya bukan kepala saya.. Lalu saya itu di mana... Descartes menjawab: "aku berfikir maka aku ada".. Bayangkan jika anda hidup tanpa kesadaran.. Hehehe anda udh kayak binatang dan pohon.
M. Said: kalau bahasa pesantrennya begini "al-Insan hayawanu an-natiq" Manusia itu adalah binatang yg berfikir/berkesadaran. jadi, yg membedakan manusia dengan yg lainnya adalah "akal" yg merupakan sumber kesadaran. lalu, apa beda rekognitif ini dengan terminologi akhlak/etika Islam dlm dunia Islam ??
Agus: Dengan kata lain seperti itu lah M. Said,  Cuman kita selama ini mis bagaimana belajar dan di mana belajar ahlak.. Cenderung kita belajar salah kamar, apa2 yang seharusnya implentasi totalitas menjadi hanya sekedar dihafal2.. Pembelajaran seumur hidup itu ya trans-rekognitif dan rekognitif.. Kognitif sifatnya opsional dan berjangka waktu.. Knapa belajar seumur hidup (transrekognitif dan rekognitif) karena beljar behubungan degn tuhan itu terus menerus, belajar kebaikan itu terus menerus.. Bayangkan jika kita stop berhubungan?.. Semua yg dipljari disadur dari al-quran ya karena memang itu pedoman kita... Kalau menurt sy inti ajaran islam dlm al-quran ada dua.. 1. Percaya dan 2. Amal sholeh... Berislam minimalis secara awam ya iman (syahadat) saja cukup, maksimalis ahlak rasulullah.. Kita minimalis atau proses diantaranya

Tuesday, 28 June 2016

Catatan Kaki Sang Pembelajar



Tak merasa at home

"Kau tak tahu malu, menghinaku di depan orang banyak.. Sebenarnya kau hanya menutupi kebodohanmu hingga menghina dina diriku" kataku di dalam hati. Di sini praktik pembelajaran sabar yang selama ini terbaca. Kubiarkan saja ia berkata-kata hingga berbusa-busa dan aku hanya ingin belajar mendengarkan. Ku hirup nafas dalam-dalam, sambil tersenyum aku memperhatikan orang-orang mentertawakanku, mereka bahagia, tawa mereka lepas, tak ada beban, tak ada pikiran bahwa yang mereka tertawan adalah aku.. Aku jadi salah tingkah, mata-mata itu mamandangiku..Jujur aku merasa dongkol, tapi mampukah mereka merespon stengah malu ku ini dari raut wajahku yang merah padam?.. Hari telah senja dan mereka pun membubarkan diri.. Ingin ku menghindar dan tak lagi bertemu dengan mereka.. Kapanpun, di manapun# IGH. Pembelajaran.recognitif

Saat kau menertawakanku sebenarnya aku tahu bahwa kau memang tidak tahu apapun. Dan satu satunya kekuranganmu adalalah bahwa kau tidak punya kelebihan. Beginilah Yang terjadi oleh banyak aku Yang mengerti bahwa diriku sebenarnya adalah dalam dirimu. Kau adalah replikaku... Saat kau berasumsi seperti apapun tentangku bahwa sesungguhnya itulah dirimu Dan diriku... masih adakah kata kamu dalam diriku...? Sungguh aku tidak banyak tahu bahwa aku adalah aku Dan kamu.


Aku ini sebenarnya bukanlah aku, kau cincang-cincang tubuh ku, kau bungkus lalu kau buang, sebenarnya itu bukanlah aku.. Yang kau pegang adalah materiku, kau pisahkan ia dengan diriku yang satunya... Kau sebut itu dengan kehidupan.. Tanpa itu materiku tak bisa bergerak, tak bisa tumbuh berkembang seberat ini.. Apa yang ku rasakan ini adalah diriku yang lain, yang membedakanku dengan materi-materi yang lain, yang membedakanku dengan kehidupan-kehidupan yang lain.. Ini yang ku sebut kesadaran.. Kau boleh membunuh materiku, kau boleh meniadakan kehidupanku, tapi bagaimana kau bisa mencegah kesadaranku yang telah menular berabad-abad yang lalu

Segumpal daging yang terlalu kau banggakan akan meniadakan Aku dalam dirimu... dapatkah kau tetap bisa mengatakan bahwa aku adalah yang melekat dengan satu tarian tango dengan irama klasik yang semuanya kau anggap fisik...? Aku tahu aku yang di luar tidak punya kemampuan untuk bertemu aku yang kau harapkan, tapi dalam dimensi luarku kau pun tidak dapat melakukan yang kau anggap aku tanpa perantaraku... aku sangat kau butuhkan untuk syarat kau hadir dengan kesadaranku sekalipun aku hanyalah sebuah transit yang sebagian kaum akan menganggapku sebagai sampah saat aku sudah tak kau butuhkan lagi... berhentilah menganggapku tidak penting tapi kau harus menggandengku bersama sama ... Karena kutahu kita selalu menari di dua dimensi yang sama di alam intersubjektif ini.

Apakah kesalahanku adalah murni kesalahanku? Atau memang telah terjadi mis-kesadaran dalam dirimu.. Aku tak lagi mampu membedakan mana bagian dalam diriku yang bermain menentang pendapatmu.. Aku memang segumpal daging yang digerakkan oleh nafsu lalu kemudian dikontor oleh akal.. Lalu kesadaran yang mana yang membuatku merah padam menentangmu.


Hujan masih saja lebat, padahal aku sudah menunggu beberapa jam yang lalu.. Halte ini sudah berusia tua, coretan-coretan sejarah ratusan murid lalu lalan di tempat ini.. Menjadi saksi bisu bagi para kutu buku meniti sejarah mereka.. Rudi tiba-tiba hadir dengan senyum palsu kentara dalam hayalku.. Apa yang membuatku bertahan.. Apa yang membuatku tertahan? sedang Ali masih saja merengek cinta dariku.. Ali, apa yang kurang darinya? Dia pintar, aktif, ceria, namun sayang aku tak tertarik sedikitpun padanya.. 1001 kali ku menolak, 1002 ia sudah meminta cinta.

 Aku ini sebenarnya siapa, kapan dan di mana?.. Aku ada adalah identitas, sedangkan identitas adalah entitas.. Aku adalah bagian dari banyak komponen aku yang lainnya..aku tak pernah bisa sama bahkan sehari pun.. Aku tak bisa mengendalikan aku sepenuhnya, ia bekerja dengan tugas dan fungsinya masing2 menyangga satu visi yaitu aku yg hidup saat ini.. Apa yng harus kubanggakan dari aku yg tergabung ini, apakah aku materi itu? Atau kehidupan itu ataukah kesadaran.. Atau semuanya, atau tidak semuanya.

Hari sudah senja, matahari siap-siap berpamitan....detik demi detik berlalu, namun ia tetap saja duduk dalam lamunan "sungguh aku tak mampu mengendalikan diriku sendiri, lalu apa alasanku untuk mengindalikan orang lain" sambil membentur-benturkan kepalanya. "aku begitu egois, kuperbudak dia selama ini, ku anggap dia hanya sesuatu yang dapat ku manipulasi, sungguh... kejam nian diri ini", tampak dari kejauhan Abdy memanggilnya, melambai-lambaikan tangan. Ia tetap saja membatu dalam lamunan..tetes air mata mulai membasahi pipinya "ku anggap dia benda dan aku hanya melihat meterinya,... Bodohnya lagi.. takku hargai kehidupannya" tangisan itu menjadi jadi, waktu seakan terhenti dengan deraian air matanya yg tak mampu dibendung "ironisnya lagi kucampakkan kesadarannya"..
https://www.facebook.com/agusdediputraawan

simulacra




Sahur itu hujan tak henti2nya bedaru, sedang aku bergelut hanyut oleh status facebook, mataku tertawan oleh serunya perdebatan antara aku dan mereka.. Dingin pun kini tak tertahan saat yang lain pulas tertidur, namun aku masih saja sibuk dengan status facebooku.. Kini tak hanya hujan yang berisik, suara loadspeker radio RRI berirama mencoba menggangu fokusku dengan status facebooku..